Di Sumba, perempuan yang tidak bisa menenun belum bisa disebut sebagai perempuan Sumba seutuhnya. Kalimat itu diucapkan oleh Diana Kalera Lena, seorang perempuan asli dari Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Diana menyampaikan pandangan tersebut saat berbincang dalam sebuah siniar di mini studio BCA Expoversary 2026. Menurutnya, menenun bukan cuma keterampilan biasa, tetapi sebuah tradisi yang sangat kuat di kehidupan perempuan Sumba sejak mereka masih kecil.
“Proses menenun dari awal sampai menjadi selembar kain itu sangat panjang. Saya sudah membantu Ibu sejak umur 6 tahun dan mulai menenun sendiri pada usia 17 tahun,” kata Diana.
Melalui program pelatihan wastra dengan pewarna alami, Bakti BCA memberikan bimbingan kepada kelompok penenun di Sumba bersama Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Diana adalah salah satu penenun yang ikut dibina dalam program ini.