Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan dukungan pemerintah untuk komersialisasi pabrik fraksinasi plasma pertama di Indonesia melalui kemitraan strategis, demi memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan hilirisasi farmasi.
Sadikin mengatakah di Jakarta pada hari Kamis bahwa pemerintah secara konsisten mendukung sektor hulu dan hilir industri plasma lewat regulasi yang memperkuat pasokan di pusat plasma nasional, supaya bahan baku tetap lancar.
“Kami pastinya mendukung penuh dan mencari cara terbaik untuk mengatur kolaborasi ini dengan baik. Pemerintah bisa memulai dengan integrasi bersama lembaga seperti Danantara, atau sinergi dengan BUMN farmasi seperti Bio Farma,” jelasnya.
Ia berharap kemitraan strategis melalui ekosistem pemerintah bisa memastikan hasil hilirisasi yang optimal, sehingga masyarakat mendapat manfaat.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa pemerintahnya sedang menyiapkan peta jalan pengembangan layanan kesehatan di Indonesia untuk 5, 15, dan 30 tahun ke depan, mencakup sektor farmasi, rumah sakit, serta alat kesehatan.
Menteri yakin sistem ketahanan kesehatan nasional bisa kuat jika pabrik plasma segera dibangun, seperti SKPlasma Core Indonesia, untuk meningkakan produksi bahan baku obat lokal, vaksin, dan produk inovatif lain.
Pada kesempatan sama, Presiden Direktur SKPlasma Core Indonesia Hyunho Roh menegaskan komitmen perusahaan untuk melanjutkan langkah berikutnya, termasuk pengembangan bank plasma di Indonesia dan riset farmasi lebih lanjut.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan terus-menerus dari Kementerian Kesehatan. Waktu pertama kami datang ke Kemenkes untuk izin usaha, kami berjanji akan membangun pabrik fraksinasi plasma dalam dua tahun,” ujar Roh.
Dalam dua tahun, pabrik tersebut sudah selesai dibangun, dan perusahaannya sekarang menunggu proses komersialisasi.
Ia menyatakan komitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam mengumpulkan plasma lewat bank plasma, mengembangkan industri farmasi, dan vaksin.