Meningkatnya Kepercayaan: Hubungan Indonesia-Singapura Capai Puncak Baru

Indonesia dan Singapura baru saja menandatangani 26 perjanjian dalam Pertemuan Puncak Pemimpin di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6 Juli). Jumlah ini naik dari 19 perjanjian tahun lalu, menandakan hubungan yang lebih erat.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan pertemuan selama tiga jam itu menunjukkan kedewasaan dan kepercayaan antara kedua negara. Dari 26 perjanjian, 18 adalah kesepakatan pemerintah ke pemerintah (G2G) dan 8 sisanya adalah bisnis ke bisnis (B2B). Sektor yang tercakup meliputi perdagangan, investasi, energi, digital, dan sumber daya manusia.

Salah satu yang menonjol adalah kerja sama listrik lintas batas. Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara) ditunjuk untuk mengeksekusi proyek ini. CEO Danantara, Rosan Roeslani, sudah menandatangani nota kesepahaman dengan tiga perusahaan Singapura: Keppel, Singapore Energy Interconnections, dan Sembcorp.

Kedua negara juga sepakat memperkuat rantai pasok pangan dan kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6 Perjanjian Paris. Perubahan iklim kini mulai jadi kerja sama nyata, tidak hanya sebatas diskusi.

Mengenai keamanan, Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Lawrence Wong sepakat menjaga Selat Malaka dan Selat Singapura tetap terbuka sesuai UNCLOS 1982. Mereka juga menjaga koordinasi dengan Malaysia dan Thailand untuk mengatasi kecelakaan, polusi, dan pembajakan. Hal ini muncul di tengah ketegangan di Timur Tengah yang bisa berdampak pada jalur pelayaran vital tersebut.

Dalam kerja sama militer, kedua negara memperbarui implementasi Perjanjian Kerja Sama Pertahanan. Daerah latihan militer bersama diperluas ke tiga lokasi, yaitu Baturaja (Sumsel), Siabu (Riau), dan Kalimantan Barat. Menteri Pertahanan kedua negara menandatangani dokumen di hadapan presiden dan PM.

Pak Prabowo menegaskan kembali posisi ASEAN yang ingin menyelesaikan sengketa secara damai lewat dialog.

MEMBACA  Dapatkah RUU Rwanda baru berhasil dan apa yang bisa menghentikannya?

Berbeda dengan pertemuan tahun lalu, kali ini nadanya lebih akrab. Presiden Prabowo memakai kata “hati ke hati” dan “terbuka”. Dia mengatakan kedua pemimpin sepakat menyelesaikan kesalahpahaman “bagaikan teman”. Hal ini meredakan ketegangan setelah pasar saham Indonesia anjlok dan rupiah tembus 18.000 per dolar AS—yang sempat memicu netizen dengan tagar #JualIndonesia dan #JualSingapura.

Pak Prabowo juga ingat bahwa Pak Wong adalah pemimpin negara pertama yang berkunjung ke Indonesia setelah dia jadi presiden. Kerja sama rakyat ke rakyat juga ditekankan, misalnya pertukaran pelajar Garuda High School dan penerbangan langsung Singapura-Pontianak.

Tahun 2027 nanti akan jadi 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura. Jadi, retret ini tonggak penting menuju perayaan tersebut.

Peningkatan dari 19 jadi 26 perjanjian dalam setahun bisa berarti Singapura menilai pemerintahan Prabowo stabil. Negara tersebut percaya diri menggandakan kerja sama—termasuk di sektor sensitif seperti perdagangan listrik lintas batas dan akses latihan militer di Sumatera serta Kalimantan.

Penunjukan Danantara dalam bidang energi juga jadi catatan baru. Ini menempatkan badan investasi tersebut sebagai ujung tombak diplomasi ekonomi Indonesia. Hasilya akan kelihatan imbangi dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi maritim, komitmen pada Selat Malaka yang tetap terbuka bikin jalur ini rentan dari tekanan geopolitk. Namun, kesempatan ini dipakai Indonesia bagaimana bisa sebagai pelindung jalur laut kredibel dan hukum sama te dikuti lautan sumber modal diplomasi di sing forum ASEAN dsb konsekuen diperlukan.

Tinggalkan komentar