Mengungkap Peta Kekuatan 5G Indonesia: Siapa yang Tercepat?

Minggu, 22 Februari 2026 – 18:38 WIB

Jakarta, VIVA – Lembaga independen OpenSignal dalam laporan Mobile Network Experience edisi Desember 2025 mencatat adanya perbedaan performa layanan 5G antar operator di Indonesia.

Dalam beberapa indikator seperti pengalaman video 5G, kecepatan download dan upload 5G, serta konsistensi kualitas jaringan, Telkomsel tercatat mendapat nilai tertinggi dibanding operator lain.

Selain itu, pada kategori Coverage Experience dan Availability Experience 5G, laporan tersebut juga menunjukkan Telkomsel berada di posisi teratas. Temuan ini memperlihatkan bahwa kualitas 5G tidak hanya ditentukan oleh ekspansi jaringan, tapi juga oleh faktor teknis yang lebih mendasar.

Ian Yosef Matheus Edward, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB), menjelaskan bahwa performa 5G sangat dipengaruhi oleh kepemilikan spektrum frekuensi yang memadai dan berkelanjutan.

“Dalam teknologi seluler, lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci utama. Operator dengan spektrum yang lebih lebar dan tersusun dengan kontinyu akan lebih optimal dalam menghadirkan kecepatan dan stabilitas 5G,” ujarnya, Minggu, 22 Februari 2026.

Ia menambahkan, selain spektrum, dukungan infrastruktur backbone yang kuat dan terintegrasi juga berkontribusi terhadap konsistensi pengalaman pengguna. Kombinasi faktor-faktor inilah yang umumnya tercermin dalam hasil pengukuran lembaga independen seperti OpenSignal.

Meski demikian, penetrasi 5G di Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan beberapa negara di Asia yang telah mencapai sekitar 50 persen. Di Indonesia, penetrasi 5G masih berada di kisaran 10 persen.

Ian menilai ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, antara lain keterbatasan spektrum 5G yang tersedia, harga perangkat yang belum sepenuhnya terjangkau, serta model bisnis dan *use-case* yang masih berkembang.

Untuk menghadirkan layanan 5G yang optimal, menurut dia, idealnya satu operator seluler memiliki alokasi sekitar 100 MHz spektrum. Namun, dengan 50 MHz yang kontinyu di pita TDD, layanan 5G sudah dapat berjalan dengan performa yang cukup baik.

MEMBACA  MUI Imbau Agar Produk Amerika Tanpa Label Halal Dihindari

Saat ini, sebagian operator seluler masih mengoptimalkan spektrum *existing* yang juga digunakan untuk 4G, sehingga implementasi 5G berjalan berdampingan dengan jaringan generasi sebelumnya.

Ke depannya, Ian berpandangan bahwa kebijakan pengelolaan spektrum perlu dirancang tidak hanya untuk memaksimalkan penerimaan negara, tetapi juga untuk mendorong investasi jaringan yang berkelanjutan dan pemerataan akses.

“Kalau spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator seluler yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat,” tuturnya.

Tinggalkan komentar