Mengintip Desa Banyuanyar: Lestari dan Terus Berkembang Berkat Pemberdayaan BRILiaN

Minggu, 29 Maret 2026 – 00:05 WIB

Boyolali – Dari sebuah desa dengan keterbatasan, Banyuanyar di Kabupaten Boyolali perlahan berubah menjadi desa percontohan yang berbasis kolaborasi dan keberlanjutan. Mimpi besar ini sekarang dikenal sebagai Banyuanyar Green Smart Village, sebuah konsep desa pintar yang ramah lingkungan dan fokus pada kekuatan masyarakatnya sendiri.

Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, menjelaskan bahwa perubahan ini tidak terjadi dengan cepat. Melalui model pembangunan pentahelix, masyarakat secara gotong royong membangun desa mereka setahap demi setahap.

"Dengan moto ‘rumah besar kami’, Banyuanyar Green Smart Village, melalui proses yang panjang dan tidak mudah, akhirnya kami bisa membangun yang namanya kampung UMKM," ujarnya.

Salah satu pondasi utama Banyuanyar Green Smart Village adalah pengembangan kampung UMKM dengan konsep Satu Kampung Satu Produk (One Kampung One Product). Setiap kampung punya identitas dan produk unggulan sendiri, mulai dari kampung kopi, susu, madu, ekonomi kreatif, hingga kampung biofarmaka. Seluruh prosesnya, dari bahan baku, pengolahan, sampai pelaku usahanya, benar-benar berasal dari warga. Bukan milik pemerintah, tapi milik masyarakat desa.

Konsep ini didukung oleh keberadaan BUMDes Kampus Kopi Banyuanyar yang mengelola berbagai unit usaha. Menurut Musli, Direktur BUMDes, sektor wisata menjadi keunggulan desa karena menawarkan wisata edukasi berbasis komunitas.

"Kami melihat Banyuanyar ini cukup layak untuk didorong menjadi desa yang bisa mengembangkan potensi wisata, terutama untuk edukasi dan itu berbasis masyarakat," jelasnya.

Di Kampung Susu, semangat ini terasa nyata. Pramono, Ketua Klaster Kampung Susu, bercerita bagaimana usaha ternak sapi perah yang dulu hanya tradisi turun-temurun, sekarang berkembang menjadi bisnis olahan yang punya nilai tambah. Berbagai produk seperti susu pasteurisasi, yoghurt, dan pie susu dibuat di "Omah Susu Koboy".

MEMBACA  Belanda dan Israel termasuk dalam 7 negara yang takut akan kekuatan militer Indonesia

"Dengan punya produk olahan sendiri, nilai ekonominya meningkat dan pendapatan peternak juga jadi lebih baik dibanding kalau hanya dijual ke pengepul," tuturnya.

Hal serupa terjadi di Kedai Barendo, klaster kopi yang muncul dari inisiatif para petani. Dikelilingi pohon kopi, kedai ini menjadi simbol kemandirian petani yang sekarang bisa mengolah dan memasarkan kopi mereka sendiri.

Tinggalkan komentar