Mengenal Emotional Eating dan Strategi Mengendalikannya Saat Berpuasa

loading…

Aspek emosional saat makan punya peran besar dalam hubungan kita sama makanan, terutama di bulan Ramadan. Foto/Aldhi Chandra.

JAKARTA – Saat menjalankan puasa, banyak orang fokus sama menu apa yang akan dimakan saat sahur dan berbuka puasa. Tapi aspek emosional makan juga sangat berpengaruh terhadap hubungan kita dengan makanan, terlebih saat Ramadan.

**Emotional eating** adalah kebiasaan dimana seseorang makan untuk merespon perasaan seperti stres, sedih, bosan, atau cemas, bukan karena benar-benar lapar. Makanan sering dijadikan pelampiasan emosi dan biasanya yang dipilih adalah makanan tinggi gula, tinggi lemak, atau yang bikin nyaman secara emosional.

Baca juga: Gorengan Jadi Menu Favorit Buka Puasa? Ini Bahaya Kesehatan yang Mengintai

Selama Ramadan, pola *emotional eating* bisa muncul saat sahur atau berbuka jika seseorang lagi ada tekanan emosional. Misalnya karena stres, kelelahan, atau perubahan rutinitas, soalnya puasa bisa pengaruhi suasana hati dan keseimbangan perasaan.

*Emotional eating* bisa terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:

### **Mengenal Emotional Eating dan Cara Mengendalikannya Selama Berpuasa**

**1. Makan sebagai Pengalih Emosi**

Saat merasa cemas, bosan, atau sedih, makanan sering dipakai untuk mengalihkan perhatian dari perasaan ga nyaman itu. Selama puasa, perubahan jam tidur atau energi yang menurun bisa buat beberapa orang lebih rentan terhadap dorongan ini.

**2. Kenikmatan atau “Comfort Food”**

Makanan tertentu bisa bikin rasa nyaman atau nostalgia, jadi dipilih untuk “menghibur diri”. Selama Ramadan, ini bisa muncul pas waktu berbuka, dimana makan bukan cuma untuk isi perut, tapi juga sebagai reaksi emosional terhadap energi yang rendah atau mood yang berubah.

**3. Perasaan Negatif atau Stres**

Stres, rasa bersalah, atau rasa frustasi bisa picu keinginan makan yang ga ada hubungannya sama lapar fisik. Puasa yang panjang atau jadwal yang berubah kadang memicu stres atau capek, yang akhirnya muncul sebagai dorongan makan emosional saat waktunya buka.

MEMBACA  Kim Kardashian memposting video menguji robot AI Tesla Optimus dan Cybercab: 'Tidak ada pengemudi?'

Oleh karena itu, penting untuk mengelola *emotional eating*, termasuk saat puasa, dengan cara-cara berikut:

**4. Perhatikan Rasa Lapar Fisik**

Lapar yang sebenarnya itu ketika perut terasa kosong, ada rasa lemas atau gemeteran, dan akan lapar lagi beberapa jam setelah makan. Berbeda sama lapar emosional yang sering datang tiba-tiba dan pengennya makanan tertentu aja.

**5. Tanggapi Emosi dengan Cara Lain**

Daripada langsung makan saat cemas atau stres, coba cara lain seperti jalan santai, nulis di buku harian, latihan pernapasan, atau cerita sama teman. Selama Ramadan, refleksi, berdoa, atau meditasi ringan setelah buka puasa juga bisa membantu menenangkan perasaan sebelum mengambil makanan.

**6. Buat Jadwal Makan yang Konsisten**

Menjaga waktu sahur dan berbuka di jam yang teratur bisa bantu tubuh dan pikiran beradaptasi, sehingga mengurangi kecenderungan untuk makan impulsif saat waktunya buka.

**7. Fokus ke Nutrisi yang Bikin Kenyang Lama**

Memilih makanan yang kaya serat, protein, dan lemak sehat bisa bantu mengendalikan lapar fisik. Dengan begitu, dorongan untuk makan karena emosi bisa berkurang.

(nnz)

Tinggalkan komentar