Jumat, 6 Februari 2026 – 22:22 WIB
Jakarta, VIVA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekarang jadi sorotan utama dalam diskusi kebijakan publik di Indonesia. Ada yang anggap kebijakan ini bagus karena menunjukkan negara hadir dan memenuhi tanggung jawabnya untuk kebutuhan gizi masyarakat.
Sebaliknya, ada juga yang anggap kebijakan ini pemborosan dana di tengah kondisi ekonomi yang belum pasti.
Seorang pengamat kebijakan publik dan Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian Kiprah, Fakhrido Susilo, nilai MBG itu intervensi sosial yang fundamental untuk masa depan bangsa.
"Karena itu, MBG tidak perlu dihentikan, malah justru diperlukan di tengah dinamika ekonomi global yang tidak bisa diprediksi," kata Fakhrido dalam pernyataannya, Jumat, 6 Februari 2026.
Suasana dapur MBG di Brebes saat sedang mempersiapkan makanan untuk dikirim ke sekolah
Fakhrido yang juga dosen di Fakultas Ilmu Sosial Politik President University menambahkan, dinamika ekonomi global ini tidak hanya dirasakan Indonesia, karena semua negara di dunia juga mengalaminya.
Misalnya seperti India yang juga terkena dampak gejolak ekonomi dunia, termasuk sampai Brazil dan Amerika Serikat. Tapi di sana, tanggung jawab sosial negara tetap harus dipenuhi dan mereka tidak menghentikan program makan siang sekolahnya.
"Saya rasa ada banyak instrumen kebijakan yang bisa ditawarkan pemerintah untuk bisa mengurangi atau mengatasi dinamika ekonomi, tanpa harus mengorbankan MBG," ujarnya.
Fakhrido juga melihat fenomena orang tua di Indonesia yang bisa kerja pagi, siang, malam karena punya lebih dari satu pekerjaan. Kadang mereka punya pekerjaan utama sebagai buruh di pagi hari, dan jadi driver ojek online di sore hari. Hal ini sering bikin perhatian terhadap gizi anak jadi terabaikan.
"Adanya MBG justru meringankan beban orang tua, memastikan anak dapet asupan berkualitas tanpa ganggu produktivitas kerja mereka," katanya.
Hal ini sejalan dengan pendapat pakar dan Edukator Kesehatan, dr. Rita Ramayulis. Dia tekankan, MBG adalah solusi konkret pemerintah dalam menjawab kekhawatiran akan semakin sulitnya akses anak-anak ke makanan bergizi.
Sekaligus, kalau MBG dimaksimalkan, hal itu akan bisa menggerakkan ekonomi lewat olahan bahan pangan lokal.
"Kehadiran program MBG ini sebenarnya untuk mendekatkan dan memudahkan akses ke makanan yang bergizi," ujarnya.