Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan Meski Berhadapan dengan AS dan Israel? Berikut Analisisnya

loading…

Para ahli membeberkan beberapa faktor penyebab Iran sangat sulit ditaklukan meski AS dan Israel gabung melakukan serangan keroyokan. Foto/Screenshot video BBC

TEHERAN – Saat ancaman perang lain membayangi Timur Tengah, satu pertanyaan yang membingungkan banyak orang adalah bagaimana Iran, yang telah bertahun-tahun dilemahkan oleh sanksi dan berbagai perang Israel di kawasan setelah serangan Hamas Oktober 2022, mampu melawan kekuatan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Selama perang 12 hari di Juni 2025, Israel pertahankan superioritas udara penuh atas wilayah Iran. Iran tidak punya Angkatan Udara yang mumpuni, dan sistem pertahanan udaranya terus dilemahkan oleh serangan Israel. Israel juga telah “memenggal” kepemimpinan militer Iran—membunuh jenderal-jenderal puncak dalam serangan udara presisi.

Selain itu, salah satu alat tawar utama Iran, yaitu kelompok proksinya di kawasan; Houthi di Yaman, Hamas di Palestina, dan Hizbullah di Lebanon, semuanya telah melemah. Sekutu regionalnya yang paling setia, Bashar al-Assad dari Suriah, telah kabur dari negaranya dan hidup dalam pengasingan di Rusia.

Baca Juga: AS Bersiap Kerahkan Kapal Induk Kedua, Kemungkinan Serang Iran Jika Perundingan Gagal

Sementara itu, Moskow sepenuhnya sibuk dengan Perang Ukraina, yang membuat Teheran hampir tak punya teman kecuali China. China, seperti diketahui umum, hanya akan beri bantuan diplomatik dan sedikit bantuan ekonomi ke Iran jika terjadi konflik militer.

Lebih parah lagi, mata uang negara itu telah runtuh, inflasi ada di titik tertinggi, dan rezim Iran menghadapi salah satu tantangan internal paling serius terhadap kekuasaannya.

Israel berpendapat bahwa Iran sedang di titik terlemah dan siap untuk operasi perubahan rezim yang dibantu intervensi militer eksternal.

Di sisi lain ada kekuatan gabungan dari hegemon militer regional, Israel, dan negara adidaya global, AS. Mereka dibantu jaringan sekutu strategis Amerika seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan Bahrain, ditambah hampir 18 pangkalan militer AS.

MEMBACA  Saham ABB kehilangan peringkat beli saat Goldman menyebutkan premi sektor dan keterbatasan keuntungan. Oleh Investing.com

AS juga telah kerahkan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln, dan kirimkan jet tempur, kapal perusak rudal berpandu, serta sistem pertahanan udara tercanggihnya ke wilayah tersebut.

Tapi, para pakar militer memperingatkan Washington agar tidak gegabah bertindak di Teluk Persia. William Hartung, peneliti senior di Quincy Institute for Responsible Statecraft, peringatkan bahwa Iran bisa berubah jadi Perang Irak lainnya bagi AS.

“Ini mengingatkan pada awal Perang Irak, ketika mereka bilang semuanya akan mudah. Tak akan banyak biaya. Nyatanya, triliunan dolar, ratusan ribu korban jiwa, banyak veteran AS pulang dengan PTSD, rezim sektarian yang buka jalan bagi ISIS—tak mungkin lebih buruk dari itu. Awalnya mungkin beda, tapi akhirnya tidak pasti, dan saya rasa kita tidak mau sampai ke situ,” paparnya, seperti dikutip EurAsian Times, Jumat (13/2/2026).

Georg Spöttle, seorang analis keamanan dari Hongaria, memperingatkan bahwa Washington mungkin pilih “serangan udara peringatan” tetapi harus hindari perang panjang yang tidak akan diterima publik AS.

Lalu, mengapa—meski ada perbedaan kemampuan militer yang sangat besar, ekonomi yang sekarat, dan rezim yang sangat tidak populer—Teheran masih jadi tantangan tangguh bagi kekuatan gabungan AS-Israel?

Jawabannya, kombinasi faktor geografis, geopolitik, dan militer membuat Teheran tetap jadi kekuatan yang harus dipertimbangkan.

Faktor Geografis yang Menguntungkan Iran

Iran terletak sangat dekat dengan Selat Hormuz, jalur air penting yang sangat krusial bagi pasokan minyak dunia. Hampir seperlima kebutuhan minyak global lewat Selat Hormuz.

Jika terjadi konflik militer, Iran bisa dengan mudah tutup selat itu. Ancaman ini sudah berulang kali diucapkan oleh otoritas politik dan militer Iran selama bertahun-tahun.

Penutupan Selat Hormuz bisa dilakukan dengan penggunaan ranjau laut, rudal jelajah, sistem pertahanan pantai, dan kapal cepat.

MEMBACA  Inilah Pembaruan Keamanan Google dan Microsoft yang Perlu Anda Lakukan Sekarang

Selain itu, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Irak juga tergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak dan gas mereka.

Kerentanan Selat Hormuz adalah alasan utama mengapa semua mitra regional AS menentang intervensi militer di Iran.

Tinggalkan komentar