Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang kalau pelemahan nilai tukar rupiah gak mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, ekonomi dalam negeri masih cukup kuat dibanding negara lain di kawasan.
“Tapi buat saya, ini bukan tanda memburuk atau dipicu oleh ekonomi domestik yang jelek. Dibanding negara lain, kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand, dan lainnya, kita masih kuat,” ujarnya dalam briefing media di Jakarta, Jumat.
Dia jelasin, pelemahan rupiah banyak dipengaruhi faktor global dan ekspektasi pasar. Purbaya bilang pemerintah akan terus berusaha kurangi gangguan atau ‘noise’ yang bikin persepsi negatif terhadap ekonomi Indonesia.
Langkah yang bakal dilakukan antara lain menutup potensi kebocoran di sistem pajak dan memastikan kebijakan dijalankan lebih efektif. Beberapa isu yang sempat jadi kontroversi, termasuk kebijakan pajak tertentu, juga udah dirapihin biar pasar gak makin bingung.
Selain itu, Bendahara Negara tegasin soal pentingnya ngatur ekspektasi publik dan pelaku pasar. Menurutnya, sentimen negatif yang beredar bisa bikin persepsi terhadap rupiah makin jelek, padahal fundamental ekonomi gak berubah.
“Fundasi ekonomi kita gak berubah. Malah akan tumbuh lebih cepat karena kita bakal lebih serius buat benahin hambatan di ekonomi,” tegas Purbaya.
Nilai tukar rupiah sempat melemah 108 poin, atau 0,63 persen, ke Rp17.289 per dolar AS pada Kamis pagi (23 April), turun dari posisi sebelumnya Rp17.181. Namun pada Jumat, rupiah tercatat menguat 57 poin, atau 0,33 persen, ke Rp17.229 per dolar AS.