Longsor Cisarua Terkait Geologi Kuno dan Air Tanah Jenuh

Bandung, Jawa Barat (ANTARA) – Badan Geologi mengungkapkan bahwa musibah longsor yang mengubur 30 hektar lahan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, bukan hanya bencana hidrometeorologi biasa. Ini merupakan gabungan dari kondisi geologi kuno dan kejenuhan air tanah.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, pada Senin menyatakan bahwa analisis mendalam menunjukkan kombinasi fatal antara struktur geologi kuno yang rapuh dan kejenuhan air tanah yang memicu kegagalan lereng di kawasan padat penduduk itu.

"Karakter tanah di lokasi itu ibarat bom waktu geologi yang akhirnya meledak," ujarnya.

Berdasarkan analisis data sekunder, Lana menjelaskan bahwa lokasi bencana, yang terletak di koordinat 6,796861° Lintang Selatan dan 107,539694° Bujur Timur, berada di atas satuan batuan Formasi Sedimen Gunung Api Tua Tidak Terpisahkan (QVu).

"Satuan ini umumnya terdiri dari breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basal, dan material piroklastik yang telah mengalami pelapukan intensif," jelasnya.

Pelapukan lanjutan batuan vulkanik ini secara drastis mengurangi kekuatan geser tanah.

Selain itu, situasi diperparah oleh keberadaan struktur geologi berupa sesar dan rekahan yang berarah barat laut – tenggara. Retakan mikroskopis ini berfungsi seperti jalan tol bagi air hujan untuk meresap jauh ke dalam tanah, menciptakan zona kelemahan yang siap meluncurkan jutaan ton material tanah kapan saja, lanjutnya.

Faktor pemicu yang tidak terhindarkan adalah cuaca hujan lebat, dimana infiltrasi air hujan yang kuat ke lapisan tanah yang telah lapuk menyebabkan peningkatan signifikan pada tekanan air pori.

Ketika tekanan air ini meningkat, kohesi tanah melemah, dan ketika gaya pendorong lereng melebihi gaya penahan, pergerakan massa tanah dan batuan terjadi sepanjang bidang gelincir yang berkembang di zona kelemahan, kata Lana.

MEMBACA  Prilly Latuconsina Memberikan Komentar tentang Kemesraan Luna Maya dan Maxime Bouttier

Ini menjelaskan mekanisme teknis di balik luasnya jangkauan longsoran tersebut.

Ia menambahkan, selain faktor alam, aktivitas manusia mempercepat proses ini. Penggunaan lahan yang didominasi permukiman dan pertanian, ditambah pemotongan lereng untuk jalan tanpa sistem drainase yang memadai, telah mengganggu kestabilan lereng alam yang di beberapa bagian mencapai lebih dari 40 derajat.

Mengingat lokasi kejadian termasuk dalam Zona Kerentanan Longsor Sedang, tim teknis mengeluarkan rekomendasi penting yang harus dipatuhi untuk mencegah korban lebih lanjut.

Rekomendasi teknis menekankan bahwa warga di dekat area terdampak harus segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman karena potensi longsor susulan tetap tinggi, terutama akibat struktur tanah yang sudah terganggu.

"Penanganan longsor dan pencarian korban hilang harus memperhatikan cuaca dan menghindari kegiatan saat atau setelah hujan deras," ingat Lana.

Peringatan ini sangat penting karena longsor susulan bisa membahayakan personel pencarian dan pertolongan (SAR) serta relawan yang bekerja di zona bahaya.

Selanjutnya, pemasangan rambu bahaya bencana dan sosialisasi mitigasi kini menjadi prioritas mendesak. Masyarakat didesak tidak hanya waspada terhadap hujan, tetapi juga memahami tanda-tanda dini longsor di lingkungan mereka.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menginformasikan bahwa akibat insiden longsor pada Sabtu (24 Januari) lalu, 19 orang dinyatakan meninggal, 73 orang masih dalam pencarian, 666 orang mengungsi, dan 51 rumah rusak berat.

Berita terkait:
Kepala AL Sebut 23 Marinir Jadi Korban Longsor Cisarua
Tim SAR Evakuasi 29 Jenazah Korban Longsor Cisarua, Dikirim ke DVI
Kementerian Gugat Enam Perusahaan Terkait Memburuknya Bencana di Sumut

Penerjemah: Ricky Prayoga, Resinta Sulistiyandari
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar