Kurangi Kebutuhan BBM Semakin Mendesak, Insentif Kendaraan Listrik Perlu Ditingkatkan

sedang memuat…

Para ekonom bilang pemerintah perlu perkuat lagi insetif untuk kendaraan listrik supaya ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) bisa berkurang, apalagi dengan konflik di Timur Tengah. Foto/Dok

JAKARTA – Ekonom dari Bank Permata, Joshua Pasaribu, mengatakan pemerintah seharusnya memperkuat lagi insentif kendaraan listrik untuk menurunkan ketergantungan pada bahan bakar minyak atau BBM. Terutama karena ada ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

“Dalam situasi saat ini, mengurangi ketergantungan pada BBM makin mendesak. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat insentif buat beli kendaraan listrik,” ujar Joshua.

Menurut dia, gangguan geopolitik di kawasan itu bikin Selat Hormuz jadi sangat penting lagi untuk pasar energi dunia. Di tahun 2024, minyak yang lewat Selat Hormuz mencapai kurang lebih 20 juta barel per hari, atau sekitar 20% dari konsumsi minyak global.

Baca Juga: Hemat BBM, Pemerintah Bakal Terapkan WFH Tiap Jumat

Kemudian di Maret 2026, tambahnya, pasokan minyak global turun sekitar 8 juta barel per hari karena gangguan di Timur Tengah. Harga minyak Brent waktu itu masih sekitar 108 dolar per barel per 27 Maret 2026.

Joshua memberi contoh, kebijakan pemerintah di 2025 yang memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) buat mobil listrik roda empat dengan kandungan lokal minimal 40% sampai Desember 2025.

“Kebijakan itu dinilai efektif untuk bantu membentuk pasar kendaraan listrik dan juga mempercepat pengembangan ekosistem industrinya,” katanya.

MEMBACA  Hari Kata Sandi Dunia: Kita Semakin Dekat untuk Meninggalkan Teknologi yang Rentan Diretas

Tinggalkan komentar