Rabu, 4 Maret 2026 – 04:30 WIB
Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kesiapan pemerintah untuk mengantisipasi dampak konflik Iran terhadap pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM) nasional.
Purbaya menegaskan stok energi dan skenario fiskal sudah dihitung untuk menjaga stabilitas ekonomi. Gangguan serius baru akan teradi jika tidak ada suplai sama sekali dalam waktu yang cukup lama.
“Kalau sampai 20 hari nggak ada suplai sama sekali, baru berantakan. Tapi, biasanya enggak seperti itu. Kita pasti dapat suplai, cuma harganya lebih tinggi sedikit,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.
Purbaya menjelaskan pemerintah telah melakukan simulasi untuk harga minyak mentah. Menurutnya, meski harga minyak naik hingga 92 dolar AS per barel, anggaran negara masih mampu untuk pembelian.
“Harga minyak kan naik mendekati 80 dolar AS per barel ya. Saya sudah hitung sampai 92 pun kita masih bisa kendalikan anggaran, jadi enggak ada masalah,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pihaknya masih menghitung dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN 2026, akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
“Di dalam APBN, harga ICP itu 70 dolar AS per barel, dan sekarang harga minyak sudah naik menjadi 78–80 dolar AS per barel,” ujar Bahlil.
Dengan demikian, harga minyak dunia saat ini sudah berada di atas asumsi makro di APBN 2026. Sebagai negara yang mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, kenaikan harga ini membebani APBN dengan potensi pembengkakan subsidi energi.
Namun, di sisi lain, Indonesia juga mendapatkan tambahan pendapatan dari kenaikan harga minyak dunia tersebut. Perhitungan ini, kata Bahlil, akan dilakukan dengan hati-hati karena terkait subsidi energi di dalam negeri. (Ant)