Selasa, 17 Maret 2026 – 04:15 WIB
Iran, VIVA – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya tidak mencari gencatan senjata, tetapi perang melawan Amerika Serikat dan Israel harus diakhiri. Araghchi juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran akan terus berjuang hingga serangan-serangan di masa depan dapat dicegah.
Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers terakhir Kementerian Luar Negeri jelang akhir tahun kalender Iran, Senin 16 Maret 2026.
“Kami tidak meminta gencatan senjata, tapi perang ini harus berakhir dengan cara yang membuat lawan kami tidak akan berpikir lagi untuk mengulangi serangan seperti itu,” kata Araghchi, seperti dikutip dari laman Iran International, Selasa 17 Maret 2026.
Dia mengatakan Iran telah melewati tahun yang sulit, tetapi berhasil menahan upaya musuh-musuhnya untuk memaksa Teheran menyerah tanpa syarat.
“Sekarang mereka paham bangsa seperti apa yang mereka hadapi. Iran siap melanjutkan perang ke mana pun diperlukan,” ujarnya.
Dalam konferensi pers yang sama, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, juga menyoroti situasi di Selat Hormuz. Dia menyebutkan bahwa meski ketegangan tinggi, Selat Hormuz tidak ditutup dan Iran tetap mengendalikan pergerakan kapal di jalur strategis tersebut.
“Kapal-kapal dari beberapa negara melewati Selat Hormuz dengan koordinasi bersama Republik Islam Iran,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa Iran selalu menjadi penjaga Selat Hormuz dan memastikan keamanan jalur pelayaran. Peningkatan langkah keamanan di selat itu disebutnya sebagai respons terhadap perang yang dipaksakan pada Iran.
Aset AS di Kawasan Bisa Jadi Sasaran
Baghaei juga memperingatkan bahwa Iran dapat menargetkan aset militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara kawasan jika fasilitas tersebut digunakan untuk menyerang Iran.
Dia mengatakan Teheran telah memperingatkan negara-negara tetangga beberapa bulan sebelumnya agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk operasi militer melawan Iran.
“Kami tidak bermusuhan dengan negara-negara di kawasan. Yang kami target adalah pangkalan dan aset Amerika,” tegas Baghaei.