Jakarta (ANTARA) – Hari Tidur Sedunia 2026 menekankan bahwa tidur yang berkualitas sama pentingnya bagi kesehatan seperti nutrisi dan olahraga. Menurut Kementerian Kesehatan, tidur yang baik mendukung kesehatan fisik, keseimbangan emosi, produktivitas, serta mengurangi resiko kematian pada orang dewasa dan lansia.
“Tidur berkualitas bukan cuma soal lamanya waktu di kasur. Itu ditentukan oleh kemampuan tidur yang memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, di Jakarta pada Sabtu.
Menurutnya, tema tahun ini, “Tidur Nyenyak, Hidup Lebih Baik,” membawa pesan penting, khususnya bagi masyarakat perkotaan yang ritme sirkadiannya sering terganggu pola kerja dan polusi cahaya.
Dia menegaskan, tidur memungkinkan tubuh memulihkan fungsi, seperti menguatkan memori, membuang racun, dan menjaga suasana hati. Kurang tidur akut menurunkan kemampuan kognitif, waktu reaksi, dan memori jangka pendek. Sementara kurang tidur kronis meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.
Survei global oleh ResMed 2025 dengan 30.026 responden menunjukkan dunia menghadapi krisis tidur. Banyak orang melaporkan kualitas tidur buruk yang menghambat produktivitas.
“Banyak orang dewasa tidak memenuhi durasi tidur yang disarankan, yaitu tujuh sampai sembilan jam per malam. Studi lintas zona waktu menunjukkan banyak orang di atas 50 tahun mengalami kualitas dan durasi tidur yang buruk,” ujarnya.
Hal ini meningkatkan risiko gangguan kognitif ringan, kelemahan fisik, dan kematian. Karena itu, tidur yang baik sangat penting untuk pemulihan agar tidak mengantuk berlebihan di siang hari, menjaga kemampuan kognitif, dan menghindari mudah marah.
Peneliti mengidentifikasi beberapa indikator tidur baik, seperti total waktu tidur, lama waktu yang dibutuhkan untuk terlelap, frekuensi terbangun di malam hari, proporsi waktu di kasur yang benar-benar digunakan untuk tidur, dan kepuasan subjektif terhadap tidur.
Pambudi juga memberi sejumlah saran untuk meningkatkan kualitas tidur, antara lain menargetkan tidur tujuh hingga sembilan jam per malam untuk dewasa, membatasi waktu layar satu jam sebelum tidur, menjaga jadwal tidur konsisten, dan mengatur pencahayaan untuk mendukung ritme sirkadian.
“Kurangi gangguan di malam hari dengan menjaga kamar gelap, suhu ruangan sejuk, dan meminimalkan kebisingan. Selain itu, hindari kafein dan alkohol mendekati waktu tidur, serta konsultasi ke profesional jika mengalami gejala gangguan tidur,” kata dia.
Berita terkait: Indonesia sets to advance global health through leadership in DCVMN
Berita terkait: Indonesia calls for global collaboration on health resilience
Penerjemah: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026