Kementerian Kehutanan Indonesia berharap lebih banyak perusahaan mau ikut andil dalam pelestarian satwa liar dan perlindungan alam di Indonesia. Hal ini didukung oleh berbagai kebijakan baru dari pemerintah.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetika Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengatakan bahwa banyak perusahaan dalam negeri yang saat ini sudah aktif berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
“Di Indonesia, banyak perusahaan nasional yang sudah terlibat dan memberikan kontribusi untuk konservasi. Ke depannya akan lebih ditingkatkan lagi karena Presiden (Prabowo Subianto) mendukung dengan berbagai kebijakan,” kata Ahmad di sini pada Kamis (2 Juli).
Ia mencontohkan satu perusahaan dalam negeri yang sudah lama berkomitmen mendukung perlindungan elang jawa dan macan tutul jawa.
Menurutnya, pemerintah saat ini terus berusaha menjaga kelestarian alam dengan meresmikan keterlibatan pihak swasta melalui Keputusan Presiden.
Langkah tersebut termasuk pembentukan satuan tugas khusus untuk membiayai inovasi taman nasional, kawasan konservasi, dan habitat alami satwa khas Indonesia.
Ahmad juga menjelaskan bahwa kerjasama dari berbagai pihak seperti perusahaan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, media, dan pelaku bisnis terus dimaksimalkan untuk mendukung keberlanjutan keanekaragaman hayati nasional.
Program unggulan yang mendorong konservasi oleh perusahaan adalah program dari Kementerian Kehutanan bernama Satu Perusahaan, Satu Spesies. Dalam program ini, perusahaan dapat mengadopsi dan mendanai kelangsungan hidup satwa tertentu yang terancam punah.
“Jadi, perusahaan yang ingin berkontribusi bisa memilih untuk melestarikan misalnya gajah, harimau, atau anoa dengan memilih salah satu spesies,” jelas Ahmad. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus menawarkan skema ini ke berbagai perusahaan.
Ahmad menekankan bahwa sektor swasta punya sumber dana yang besar dan kemampuan teknologi yang baik. Hal ini sangat berguna untuk kegiatan konservasi di lapangan.
“Sektor swasta penting untuk mendukung konservasi di Indonesia. Bukan hanya dari uang, tapi juga menggunakan teknologi mereka untuk membantu konservasi. Mereka juga bisa memanfaatkan skema seperti satuan tugas, pembiayaan berkelanjutan, dan dana IPO,” kata Ahmad menutup.