Judul Film Lisa BLACKPINK Syuting di Indonesia Tapi Diberi Label Myanmar, Ini Ancaman Netizen Saat Dirilis

Minggu, 1 Februari 2026 – 17:30 WIB

Tangerang, VIVA – Film Netflix Extraction: Tygo yang dibintangi Lisa BLACKPINK kembali bikin perdebatan di medsos. Bukan soal akting atau pemainnya, tapi keputusan cerita yang nandain lokasi film sebagai Myanmar, meski syutingnya dilakukan di beberapa tempat di Indonesia.

Baca Juga :


Sudah Heboh Syuting di Tangerang Hingga Kota Tua, Film Lisa BLACKPINK Ternyata Berlatar Myanmar

Produksi film internasional ini berjalan intensif sejak akhir Januari 2026. Tangerang dan Banten jadi pusat utamanya, dengan kawasan Pintu Air 10 atau Bendungan Pasar Baru sebagai lokasi syuting besar yang narik perhatian warga. Scroll untuk info lebih lengkap, yuk!

Area pengambilan gambar membentang sepanjang Jalan K.S. Tubun, dari Jembatan Pintu Air 10 sampai Simpang Tujuh, Kecamatan Neglasari. Selain itu, tim produksi juga datangi Kota Tua Jakarta dan kawasan Karst Citatah, Bandung Barat, buat penuhi kebutuhan visual film.

Baca Juga :


Penutupan Jalan Syuting Film Lisa BLACKPINK Sudah Disosialisasikan ke Warga Sekitar

Syuting utama dijadwalkan selama dua hari, yaitu 30 dan 31 Januari 2026. Selama proses itu, keamanan ketat diterapin. Sejak pagi, area sekitar lokasi disterilkan oleh kru produksi internasional bareng aparat. Peralatan produksi besar, kendaraan aksi, sampai properti adegan laga terlihat penuhi kawasan tersebut.

Baca Juga :


Bangga! Tim Iko Uwais Masuk Proyek Netflix Extraction: TYGO, Dibintangi Ma Dong Seok dan Lisa BLACKPINK

Meski syutingnya di Indonesia, Extraction: Tygo secara cerita digambarin berlatar Myanmar. Di lokasi Pintu Air 10, kru bikin perubahan besar dengan ganti papan toko, rambu, dan marka jalan pake aksara Myanmar. Setnya juga dirancang mirip suasana demonstrasi era 1980-an, lengkap dengan mobil tua kebakar, bus kuno, dan poster tuntutan politik.

MEMBACA  Polisi Bali Menggagalkan Perkebunan Ganja Hidroponik Pasangan Warga Asing

Indonesia dipilih karena dianggap punya kemiripan visual dengan lokasi cerita. Arsitektur Kota Tua Jakarta dinilai mirip kawasan kolonial di Yangon, sedangkan Karst Citatah dipilih lantaran pemandangan tebing kapurnya bisa kasih kesan zona konflik yang dramatis dan realistis.

Tapi, fakta bahwa Indonesia cuma jadi “lokasi pengganti” malah picu kekecewaan warganet. Banyak komentar protes mulai bermuculan, bahkan sebelum film ini rilis.

“Ya rugi dong Kota Tua nggak bisa go internasional. Kalau sudah tayang viralin saja biar turis penasaran sama Kota Tua,” tulis warganet.

“Udah numpang syuting malah nggak diakui, sampe blokir jalan pula,” timpal yang lain.

Halaman Selanjutnya

Dampak kemacetan akibat penutupan jalan juga jadi sorotan. Selama syuting berlangsung, Pemkot Tangerang nutup total Jalan K.S. Tubun dan terapkan beberapa pengalihan lalu lintas.

Tinggalkan komentar