TEHERAN – Iran menolak usulan gencatan senjata yang diumumin sendiri oleh Amerika Serikat. Pemerintah Iran memperingatkan bahwa jeda dari gencatan senjata itu hanya akan memberikan kesempatan bagi musuh untuk berkumpul kembali dan melakukan kejahatan lebih lanjut terhadap bangsa Iran.
Dalam konferensi pers hari Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membahas berbagai usulan. Salah satunya adalah usulan dari AS yang terdiri dari 15 poin yang diklaim bertujuan mengakhiri agresi yang dilakukan Washington terhadap Republik Islam sejak 28 Februari. Usulan itu telah disampaikan ke Teheran melalui perantara.
Proposal tersebut dilaporkan meminta Iran untuk menghentikan aktivitas nuklir damainya, membatasi program rudal pertahanan, dan membuka kembali Selat Hormuz yang strategis. Selat itu sebelumnya ditutup bagi musuh dan sekutu mereka sebagai bentuk balasan.
Iran dengan tegas menolak dua ketentuan pertama. Iran juga menegaskan tidak akan menerima janji “gencatan senjata” sepihak yang diklaim musuh, karena tidak terjamin. Iran menekankan upayanya untuk mengakhiri segala agresi yang menargetkan negaranya secara tuntas.
Selain itu, Republik Islam Iran menuntut kompensasi atas kerusakan besar yang telah ditimbulkan oleh para agresor terhadap berbagai fasilitas infrastruktur negara.
Baghaei juga menyebut tuntutan Amerika dalam proposal Washington sebagai “sangat berlebihan, tidak biasa, dan tidak logis.”