Kamis, 9 April 2026 – 12:41 WIB
Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia masih mengalami tekanan tinggi walaupun ketegangan geopolitik sudah mulai berkurang. Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, kelihatannya belum cukup untuk memperbaiki masalah pasokan yang terjadi karena konflik selama lima minggu terakhir.
Keras! Iran Ultimatum AS: Pilih Gencatan Senjata atau Lanjutkan Perang
Data terbaru menunjukkan bahwa harga spot minyak Brent untuk pengiriman cepat malah naik sangat tinggi. Keadaan ini menjadi tanda bahwa pasokan minyak global masih sangat terbatas, meskipun konflik secara resmi sudah mereda.
Harga spot minyak Brent tercatat mencapai US$124,68 per barel atau kira-kira Rp2.119.560 pada hari Rabu (kurs Rp17.000). Harga ini menunjukkan kondisi sebenarnya di pasar fisik, yaitu untuk pengiriman minyak dalam waktu 10 sampai 30 hari mendatang.
Presiden Iran: Gencatan Senjata di Lebanon Syarat Utama Berdamai dengan Teheran
Sebagai pembanding, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman bulan Juni ditutup di harga US$94,75 per barel atau sekitar Rp1.610.750. Perbedaan hampir US$30 ini menunjukan bahwa pasar fisik jauh lebih ketat daripada perkiraan pasar untuk masa depan.
Walaupun harga spot sudah turun sekitar US$19,75 setelah kesepakatan gencatan senjata dua minggu, levelnya masih bisa dibilang tinggi. Ini menandakan bahwa gangguan pada pasokan belum sepenuhnya normal kembali.
Iran-AS Terancam Gagal Damai Setelah Israel Gempur Lebanon?
Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menekankan bahwa kondisi pasar minyak saat ini masih jauh dari kata normal. “Keadaannya masih sangat kacau,” katanya, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 9 April 2026.
Menurut dia, harga aktual mencerminkan realita di lapangan dan rute distribusi melalui laut. Produksi minyak di Timur Tengah dilaporkan turun sampai 13 juta barel per hari karena lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang menurun drastis.
Kebanyakan kapal tanker sekarang mengalihkan jalur ke Amerika Serikat untuk mengambil pasokan minyak dari sana. Perubahan rute ini diperkirakan memerlukan waktu sampai bulan Juni sebelum kembali normal ke kawasan Timur Tengah.
Analis Kpler yang fokus di Timur Tengah dan OPEC, Amena Bakr, menyebutkan bahwa ratusan juta barel minyak telah hilang dari pasar akibat konflik tersebut. Proses pemulihannya juga diperkirakan tidak akan berlangsung dengan cepat.
“Ini semua tergantung pada berapa lama gencatan senjata ini bisa bertahan,” ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Menurut pendapat Bakr, dibutuhkan waktu sampai lima bulan untuk memulihkan kapasitas produksi sepenuhnya. Maksudnya, ketidakpastian masih akan mempengaruhi pasar energi global untuk jangka menengah ke depan.