Inflasi Juni Didorong Harga Volatil, Bukan Permintaan: Kata Purbaya

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memperkirakan tekanan inflasi di Indonesia akan segera mereda. Kenaikan harga pada Juni 2026 dipicu oleh bahan pangan yang harganya mudah berubah dan biaya bahan bakar global, bukan karena permintaan masyarakat yang terlalu tinggi.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia di bulan Juni 2026 sebesar 3,34 persen. Sementara itu, inflasi bulanan mencapai 0,44 persen.

“Cabai dan barang-barang seperti itu sifatnya musiman. Saya berharap setelah harga minyak dunia turun, harga Pertamax juga akan ikut turun perlahan. Jadi, tekanan inflasi akan segera berkurang,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (1 Juli).

Purbaya menegaskan bahwa permintaan masyarakat masih wajar. Hal ini terlihat dari inflasi inti yang stabil terkendali, yaitu sebesar 2,76 persen secara tahunan dan 0,23 persen secara bulanan.

“Kenaikan ini bukan karena permintaan yang terlalu cepat. Karena harga inti masih stabil, harga yang berfluktuasi ini seharusnya bisa reda dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Data BPS juga menunjukkan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar di bulan Juni, dengan kenaikan 2,29 persen yang berkontribusi 0,28 persen terhadap inflasi nasional. Tiga komoditas utama di sektor ini adalah bensin (0,21 persen), tiket pesawat (0,05 persen), dan pelumas mesin (0,01 persen).

Sementara itu, sektor makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,20 persen, berkontribusi 0,06 persen terhadap inflasi keseluruhan. Bawang merah menjadi penyumbang kenaikan harga terbesar di kategori ini sebesar 0,04 persen, diikuti oleh bawang putih sebesar 0,03 persen, dan beras sebesar 0,02 persen.

MEMBACA  Kopi Nusantara Menyapa Dunia

Tinggalkan komentar