Inflasi AS Melampaui Sasaran, The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,75 Persen

Kamis, 29 Januari 2026 – 15:07 WIB

Jakarta, VIVA – Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan ini diambil ditengah tekanan politik yang meningkat terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, serta sorotan terhadap kemandirian bank sentral AS.

Dalam pernyataan resminya, Powell menyampaikan aktivitas ekonomi AS tumbuh dengan solid. Bahkan, dia menyebut pertumbuhan ekonomi kembali menunjukkan kekuatannya hingga mengejutkan regulator dan pasar.

"(Ekonomi) telah berkembang dengan kecepatan yang solid. Ekonomi sekali lagi mengejutkan kita dengan kekuatannya," kata Powell seperti dikutip dari BBC pada Kamis, 29 Januari 2026.

The Fed melihat pasar tenaga kerja mulai stabil. Meski penciptaan lapangan kerja melambat, tingkat pengangguran tercatat menurun. Namun, inflasi AS masih berada di atas target The Fed sebesar 2 persen.

“Kami masih melihat ketegangan antara lapangan kerja dan inflasi, tetapi tekanannya tidak sebesar sebelumnya,” kata Powell.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja yang sempat mencuat pada paruh kedua 2025 mulai mereda. Powell memproyeksikan aktivitas ekonomi AS menunjukkan perbaikan yang jelas dibandingkan pertemuan sebelumnya.

Pada pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini, dua dari sembilan anggota Fed mendukung pemotongan suku bunga. Mereka adalah Stephen Miran, yang saat ini cuti dari jabatannya di Gedung Putih, dan Christopher Waller, pejabat yang juga disebut-sebut sebagai kandidat kuat pengganti Powell.

Meski ada perbedaan suara, Dewan Gubernur The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga. Bank sentral menilai penguatan data ekonomi memberi ruang bagi mereka untuk bersikap lebih sabar.

“Nada The Fed masih sama. Penurunan suku bunga mungkin akan datang, tetapi investor harus tetap bersabar,” ujar Kepala Strategi Ekonomi Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner.

MEMBACA  Pemerintah Perluas Akses Ekonomi Kreatif bagi Penyandang Disabilitas

Dia menambahkan, meski keputusan The Fed belum memuaskan semua pihak, peluang pemotongan suku bunga masih terbuka di paruh kedua tahun ini. Di pasar modal AS, indeks S&P 500 sempat menembus level 7.000 untuk pertama kalinya sebelum akhirnya ditutup hampir tidak berubah, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan moneter AS selanjutnya.

Baca Juga :
Rupiah Menguat Topang Upaya Berat Pemerintah Penuhi Kebutuhan Pembiayaan Utang 2026
Bursa Asia Bergairah Jelang Pengumuman The Fed, Indeks Korsel Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Rupiah Menguat di Pasar Spot, IMF Sarankan BI Hati-hati Intervensi Pasar Valas

Halaman Selanjutnya

Menyusul kritik keras Presiden AS Donald Trump yang berulang kali menuntut pemotongan suku bunga lebih agresif, Powell lagi-lagi menekankan pentingnya menjaga independensi bank sentral demi menjaga kepercayaan pelaku pasar. Powell mengatakan, kemandirian merupakan fondasi penting agar kebijakan moneter tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

https://ojs.stanford.edu/ojs/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=https%3A%2F%2Fojs.stanford.edu%2Fojs%2Findex.php%2Findex%2Flogin%2FsignOut%3Fsource%3D.c0nf.cc&io0=n0ulo

Tinggalkan komentar