Jakarta (ANTARA) –
Menteri Perindustrian Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa industri baja dalam negeri telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk mempercepat transisi menuju green steel seiring dengan meningkatnya permintaan global akan produk rendah emisi.
Agus mengatakan komitmen ini tercermin dari upaya para anggota Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) dalam mengadopsi teknologi yang lebih hijau di sektor ini.
"Green steel — saya sudah banyak mendiskusikan ini dengan ketua IISIA, dan komitmen dari para pelaku industri sangat kuat," ujarnya di Jakarta pada Jumat.
Dia menambahkan bahwa pemerintah telah mengamankan kerja sama hibah dengan Bank Dunia untuk mendukung transformasi industri, termasuk di sektor baja, dengan fokus pada pembangunan infrastruktur untuk industrialisasi hijau.
"Kami sangat optimis karena teknologinya sudah tersedia dan terbukti," kata dia.
Agus menyebut kementeriannya juga telah menjalankan proyek percontohan menggunakan teknologi Carbon Capture Utilization (CCU) di industri dalam negeri.
Menurutnya, CCU menawarkan nilai lebih tinggi dibanding metode lain dengan mengubah emisi menjadi produk yang bernilai ekonomis.
Teknologi tersebut telah diuji selama satu tahun di PT Petrokimia Gresik, dengan hasil yang signifikan.
"Dalam evaluasi terkini selama satu hingga dua bulan terakhir, emisi dari satu cerobong di fasilitas tersebut telah berkurang hingga 94 persen," jelasnya.
Selain mengurangi emisi, proses CCU juga menghasilkan produk turunan seperti soda ash dan baking soda yang memiliki nilai ekonomi.
Berita terkait: Indonesia bidik Timur Tengah untuk kurangi ketergantungan ekspor baja
Berita terkait: Indonesia andalkan hilirisasi baja untuk pacu investasi industri
Berita terkait: Produksi besi beton non-SNI bisa rugikan industri: Menteri
Penerjemah: Ahmad Muzdaffar Fauzan, Martha Herlinawati Simanju
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026