Pangkalpinang, Bangka Belitung (ANTARA) – Kantor Karantina Kesehatan Indonesia di Pangkalpaning memperingatkan bahwa kelelawar dan burung migran yang datang dari negara-negara seperti India bisa membawa virus Nipah, patogen mematikan yang dapat menyebar ke manusia.
“Penyakit Nipah harus dipantau dengan ketat karena virusnya dapat menginfeksi manusia dengan angka kematian yang tinggi,” kata Agus Syah, kepala kantor Pangkalpinang, pada Sabtu.
Agus menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dingin di beberapa negara mendorong spesies migran ke daerah yang lebih hangat, termasuk Indonesia.
Dia mencatat bahwa puluhan burung dari Rusia baru-baru ini tiba di Jawa Timur, yang menunjukan bagaimana pergerakan satwa liar lintas batas dapat meningkatkan risiko.
Dia mengingatkan bahwa kelelawar dari negara-negara terdampak bisa masuk ke hutan tropis Indonesia, di mana populasi kelelawar lokal dapat menjadi inang bagi virus tersebut.
“Indonesia memiliki banyak spesies kelelawar, yang dapat menjadi inang untuk virus Nipah karena migrasi dari burung-burung terinfeksi dari luar negeri,” ujarnya.
Meskipun kasus suspek Nipah dilaporkan di Indonesia pada 2025—di Riau, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara—semua hasil tesnya negatif.
Namun, Agus menekankan bahwa iklim khatulistiwa Indonesia membuatnya menjadi tempat persinggahan yang mungkin bagi satwa liar migran, sehingga perlu pemantauan ketat untuk mencegah potensi wabah.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, telah mendorong Indonesia untuk mengadopsi langkah-langkah pencegahan serupa dengan yang sudah diterapkan di negara-negara tetangga.
Malaysia, Thailand, dan Singapura telah menerapkan langkah-langkah pengamanan untuk mengurangi risiko penularan Nipah.
Virus Nipah, yang baru-baru ini menyebar di India, dapat menyebabkan penyakit pernapasan parah dan radang otak pada manusia. Prof. Tjandra memperingatkan bahwa Indonesia harus mengantisipasi kemungkinan penularan dari manusia ke manusia, seperti yang diamati di India, dan memperkuat kesiapsiagaan sesuai dengan itu.
Penerjemah: Aprionis, Rahmad Nasution
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026