Indonesia Sambut Gencatan Senjata Lebanon-Israel, Serukan Perdamaian Permanen

Jakarta (ANTARA) – Indonesia secara resmi menyambut gencatan senjata yang baru saja dinegosiasikan antara Lebanon dan Israel. Pemerintah menyatakan harapan agar gencatan sementara ini dapat berkembang menjadi perjanjian damai yang permanen, begitu keterangan dari Kementerian Luar Negeri.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan bahwa Indonesia terus memantau perkembangan diplomasi setelah penghentian permusuhan.

“Indonesia berharap negosiasi akan menghasilkan gencatan senjata yang permanen,” kata Mulachela kepada ANTARA pada hari Sabtu.

Kemenlu menekankan perlunya langkah-langkah konkrit dan mendesak untuk mencegah hilangnya lebih banyak nyawa serta mengatasi krisis kemanusiaan yang memburuk di kawasan tersebut.

Indonesia menyerukan kepada semua pihak yang bertikai untuk mematuhi hukum internasional, khususnya hukum humaniter internasional, dan mengutamakan keselamatan warga sipil.

“Indonesia menekankan bahwa semua pihak harus menunjukkan pembatasan maksimal dan menghormati kedaulatan nasional,” tambah Mulachela.

Terobosan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon setuju pada gencatan senjata selama 10 hari, yang mulai berlaku pada Kamis, 16 April, pukul 9 malam GMT.

Persetujuan ini mengikuti negosiasi intensif yang dimediasi AS antara delegasi Lebanon dan Israel di Washington, D.C., awal minggu itu.

Sementara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyambut gencatan senjata ini sebagai langkah penting menuju stabilitas regional, dia secara khusus mendesak gerakan Lebanon Hezbollah untuk mematuhi ketentuan perjanjian dengan ketat.

Di Lebanon, sayap politik Hezbollah memberikan respons yang lebih hati-hati.

Hassan Fadlallah, perwakilan Hezbollah di parlemen Lebanon, menyatakan bahwa jeda 10 hari ini hanyalah langkah awal menuju pembebasan total Lebanon dan tujuan inti Hezbollah.

Fadlallah menyebutkan bahwa meski Hezbollah mendukung gencatan senjata saat ini, kelompok itu tetap berkomitmen pada beberapa tuntutan jangka panjang. Ini termasuk penghentian total permusuhan, penarikan penuh Israel dari wilayah Lebanon, hak pengungsi untuk pulang, pembebasan tahanan, serta upaya rekonstruksi menyeluruh.

MEMBACA  PVMBG mengungkapkan hasil investigasi pergerakan tanah di dekat Gunung Marapi

Berita terkait: Indonesia mendorong AS dan Iran untuk terus berdialog

Berita terkait: Pengorbanan Indonesia di Lebanon dan paradoks pasukan perdamaian

Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar