Indonesia Perkuat Perlindungan Komodo dengan Rencana Aksi Konservasi

Bogor, Jawa Barat (ANTARA) – Pemerintah Indonesia sedang meningkatkan upaya perlindungan komodo dengan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Komodo. Dokumen ini jadi panduan nasional untuk lindungi spesies endemik ini hingga tahun 2035.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetika Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menekankan pentingnya SRAK. Ia mencatat bahwa komodo adalah spesies endemik yang hanya ditemukan di Indonesia, khususnya di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Konservasi komodo adalah hal yang mendesak buat kita semua—pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, LSM, dan masyarakat,” ujarnya dalam sosialisasi SRAK Komodo di Bogor, Jawa Barat, pada Kamis.

Dia menjelaskan, meskipun populasi komodo di Taman Nasional Komodo saat ini stabil, spesies ini tetap masuk kategori terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Karena itu, upaya perlindungan harus diperkuat terus-menerus.

Menurut Munawir, ancaman terhadap komodo termasuk degradasi habitat dan penurunan mangsa karena perburuan liar. Keduanya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Dia menyebutkan, berdasarkan perkiraan, ada sekitar 3.200 ekor komodo di dalam Taman Nasional Komodo. Sementara itu, populasi di luar taman nasional diperkirakan sekitar 700 individu, tersebar di wilayah utara dan barat Pulau Flores.

Lebih lanjut dijelaskan, dokumen SRAK Komodo berlaku selama sepuluh tahun sejak ditandatangani pada 2025 hingga 2035. Dokumen ini disusun melalui kolaborasi berbagai pihak, seperti Kementerian Kehutanan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan organisasi konservasi seperti Komodo Survival Program (KSP).

“Tujuan utamanya tentu untuk melindungi dan mempertahankan kelangsungan hidup komodo. Dokumen ini merinci empat program utama, kegiatan strategis, dan rencana aksi khusus,” jelasnya.

Ketua KSP, Deni Purwandana, menambahkan bahwa tantangan konservasi terbesar berada di luar kawasan lindung. Sekitar 50 persen sebaran komodo di Flores terletak di zona konservasi non-formal.

MEMBACA  Pasangan di Tulungagung Pembunuh Divonis 14 Tahun Penjara, Persidangan Riuh

Menurut dia, situasi ini membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan agar habitat komodo tidak menyusut akibat aktivitas manusia, termasuk perluasan pariwisata di beberapa wilayah.

Dia mencatat, pendekatan sosial kepada komunitas lokal yang tinggal di dekat habitat ini adalah kunci keberhasilan. Beberapa warga masih sensitif dengan istilah ‘konservasi’, meski telah hidup berdampingan dengan komodo turun-temurun.

Berita terkait: Indonesia shut Komodo, Padar routes after cruise boat incident

Berita terkait: Authorities name suspects in illegal hunting in Komodo National Park

Berita terkait: Teenage komodo found dead on road in Komodo National Park

Penerjemah: M Fikri, Raka Adji
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar