Indonesia mendesak kelapa sawit berkelanjutan untuk keamanan pangan dan energi

Deputi Menteri Pertanian Indonesia, Sudaryono, menekankan perlunya meningkatkan produktivitas minyak kelapa sawit berkelanjutan untuk mendukung program prioritas pemerintah, terutama kemandirian pangan dan energi, serta penurunan hilir sumber daya alam.

“Ia mengatakan bahwa produktivitas minyak kelapa sawit dapat ditingkatkan melalui intensifikasi lahan dan penggunaan bibit unggul. Jika perlu, perluasan lahan akan dilakukan tanpa menyebabkan deforestasi. Ini dapat dicapai melalui studi komprehensif dan penerapan praktik berkelanjutan untuk mencegah kerusakan lingkungan.

Selain itu, peremajaan kelapa sawit, yang mencakup metode tumpang sari yang melibatkan penanaman padi sawah atau jagung, cocok untuk lahan kering.

Sudaryono menyambut baik ICOPE 2025 sebagai forum untuk mendiskusikan penelitian minyak kelapa sawit pada berbagai aspek, termasuk bibit, pupuk, perubahan iklim, dan teknologi, serta kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung peningkatan produktivitas minyak kelapa sawit.

“Jelas, ini bermanfaat bagi Indonesia karena 58 persen pasokan minyak kelapa sawit dunia berasal dari negara kita,” katanya.

Dia mencatat bahwa produktivitas minyak kelapa sawit dapat mendukung penurunan hilir sumber daya alam dan keamanan pangan, termasuk program prioritas untuk makanan bergizi gratis. Program makanan gratis ditujukan untuk siswa sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Ini juga dapat berkontribusi pada kemandirian energi melalui program biodiesel wajib 40 persen (B40), yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Sementara itu, Dewi Lestari Yani Rizki, Direktur Konservasi WWF Indonesia, menekankan bahwa industri minyak kelapa sawit harus serius menerapkan praktik berkelanjutan untuk memenuhi tantangan pasar global.

Ini diharapkan dapat membantu pemerintah Indonesia mengurangi emisi karbon dan melestarikan keanekaragaman hayati.

“Kami percaya bahwa industri minyak kelapa sawit dapat bertransformasi menjadi bisnis berkelanjutan di masa depan,” kata Dewi.

MEMBACA  Konsep Lipat Lebih Banyak, Ditambah Ponsel dan Tablet yang Tidak Akan Pernah Anda Gunakan

Ketua dan CEO Sinar Mas Agribisnis dan Pangan, Franky Oesman Widjaja, menekankan bahwa inovasi berkelanjutan dan sinergi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat sangat penting untuk menjamin masa depan industri minyak kelapa sawit.

Dia berharap konferensi ini akan menghasilkan hasil konkret dan menempatkan industri minyak kelapa sawit sebagai bagian dari solusi global terhadap tantangan iklim dan lingkungan.

“Kami berkomitmen untuk menerapkan praktik terbaik dalam pertanian berkelanjutan, serta melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sekitar,” katanya.

Tahun ini, ICOPE berlangsung di Sanur, Bali, dari 12 hingga 14 Februari, dengan peserta dari Indonesia, India, Belanda, Prancis, Malaysia, Inggris, Finlandia, Kolombia, dan Spanyol.

Konferensi ini berfungsi sebagai platform untuk merumuskan transformasi berkelanjutan bagi industri minyak kelapa sawit.

Berita terkait: RI, Malaysia akan memperkuat kerjasama di sektor minyak kelapa sawit: Prabowo
Berita terkait: Indonesia menyambut putusan WTO tentang pembatasan UE terhadap biofuel minyak kelapa sawit

Translator: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna, Yashinta Difa
Editor: Anton Santoso
Hak cipta © ANTARA 2025