Indonesia Melirik Timur Tengah untuk Kurangi Kebergantungan Ekspor Baja

Jakarta (ANTARA) – Indonesia berupaya mendiversifikasi pasar ekspor bajanya untuk mengurangi ketergantungan pada satu tujuan dan memperkuat ketahanan industri dalam negeri.

“Saya khawatir kita terlalu bergantung pada satu negara untuk mengekspor baja, karena jika negara itu mengalami gejolak ekonomi, industri baja kita akan terdampak,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta pada Jumat.

Dia mencatat bahwa sebagian besar ekspor baja Indonesia saat ini ditujukan ke Tiongkok, yang terus menunjukkan permintaan yang kuat.

Namun, Indonesia sedang mengeksplorasi pasar-pasar baru, termasuk Timur Tengah, yang memiliki permintaan tinggi akan baja untuk pembangunan infrastruktur dan industri.

“Negara-negara yang industri bajanya belum mapan juga jadi sasaran sebagai pasar potensial baru,” tambahnya.

Pada tahun 2025, ekspor baja Indonesia mencapai US$29,7 miliar, dengan Tiongkok sebagai pasar terbesar senilai lebih dari US$17,9 miliar, disusul oleh Taiwan, India, Vietnam, dan Italia.

Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan baja dan produk logam (HS code 72–73) sebanyak 7,28 juta ton, dengan ekspor 23,79 juta ton dan impor 16,69 juta ton. Namun, jika feronikel dikecualikan, neraca perdagangan menunjukkan defisit.

Meski kinerjanya positif, industri baja dalam negeri menghadapi tantangan dari kebijakan perdagangan yang restriktif, kelebihan kapasitas global, dan persaingan dari baja fabrikasi.

Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah memperkuat *remedy* perdagangan, menegakkan standar nasional, mendorong *green steel*, dan mengajak investasi hilirisasi.

Berita terkait: Kemenkeu Targetkan 40 Perusahaan Baja Rugikan PNBP Rp5 Triliun

Berita terkait: Indonesia Masuk 5 Besar Ekspor Besi dan Baja Berkat Hilirisasi

Penerjemah: Ahmad Muzdaffar F, Nabil Ihsan
Editor: Anton Santoso
Hak Cipta © ANTARA 2026

MEMBACA  Sepertinya Sutradara 'KPop Demon Hunters' Dapat Bayaran Fantastis untuk Sekuel

Tinggalkan komentar