Jakarta (ANTARA) – Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengumumkan biaya haji pada tahun 2026 akan dipotong sebesar Rp2 juta (sekitar US$117) per jemaah, meskipun harga bahan bakar penerbangan global naik.
“Kami akan memastikan biaya haji 2026 akan diturunkan sekitar Rp2 juta, walaupun harga avtur telah meningkat,” kata Presiden Prabowo dalam rapat kerja pemerintah di Istana pada Rabu, di hadapan sekitar 800 birokrat.
Pemerintah dan DPR sebelumnya telah menyepakati bahwa Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) untuk 2026 akan turun Rp2 juta, menjadi total Rp87.409.366 (sekitar US$5.145) per jemaah.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, berbicara terpisah di rapat dengar pendapat parlementer, mengkonfirmasi arahan Presiden: “Jika ada kenaikan komponen biaya haji tahun ini, kenaikan itu tidak boleh dibebankan kepada jemaah.”
Dia menjelaskan, sebelum pecahnya perang AS–Israel melawan Iran, rata-rata biaya penerbangan per jemaah adalah sekitar Rp33,5 juta (US$1.972).
Pasca konflik dan kenaikan harga avtur, maskapai penerbangan mengusulkan kenaikan yang signifikan. Tanpa perubahan rute, biaya bisa naik hingga Rp46,9 juta (US$2.761) per orang, sementara perubahan rute untuk menghindari zona konflik bisa mendorong biaya hingga Rp50,8 juta (US$2.991).
Garuda Indonesia mengusulkan tambahan biaya sebesar Rp7,9 juta (US$465) per jemaah, sementara Saudi Airlines mengusulkan kenaikan US$480.
Meskipun tekanan ini, Menteri Irfan menekankan bahwa instruksi Presiden tetap menjadi prinsip pedoman pemerintah.
“Itu komitmen dari Presiden Prabowo, yang meminta kami dan tim untuk menindaklanjuti dan menghitung kebutuhan sebenarnya,” ujarnya.
Penerjemah: Genta Tenri Mawangi, Katriana
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026