Indonesia Dorong Kolaborasi Global untuk Ketahanan Kesehatan

Menteri Kesehatan: Kolaborasi Global Kunci Ketahanan Kesehatan

Jakarta (ANTARA) – Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa kerjasama global sangat penting sekali untuk memperkuat ketahanan kesehatan. Hal ini khususnya untuk memastikan akses vaksin yang merata bagi semua negara.

Pernyataan tersebut disampaikannya secara virtual dalam pembukaan Pertemuan Tahunan ke-26 Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) yang diadakan di Bali, pada hari Rabu.

“Kami terus memperkuat kolaborasi dengan mitra regional dan global untuk memperluas produksi lokal dan mendorong inovasi,” ujar Sadikin dalam sebuah pernyataan yang diterima pada hari Kamis.

Dia menekankan kolaborasi yang sedang berjalan dengan mitra internasional, termasuk Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), Yayasan Gates, Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan inisiatif ASEAN Vaccine Security and Self-Reliance.

Dia mencatat bahwa pandemi COVID-19 menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kesehatan global dan ekonomi global.

Sadikin menekankan bahwa penundaan dalam distribusi vaksin pada tahap awal pandemi menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan produksi lokal dan kerjasama internasional guna mencegah ketidaksetaraan akses.

Sadikin menyatakan bahwa negara-negara berkembang memiliki potensi dan tanggung jawab untuk memainkan peran kunci dalam masa depan industri vaksin global.

“Dengan memperkuat kapasitas manufaktur di wilayah berkembang, produsen tidak hanya mendekatkan diri ke pasar mereka tetapi juga meningkatkan rantai pasokan dan menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan,” jelasnya.

Sadikin juga memberi penghargaan kepada anggota DCVMN karena telah mendefinisikan ulang manufaktur vaksin global melalui perluasan kapasitas, adopsi teknologi baru, dan kemitraan yang lebih kuat.

Pada forum yang sama, CEO African Pharmaceutical Technology Foundation (APTF), Profesor Padmashree Gehl Sampath, menyoroti tantangan keuangan dan logistik yang masih dihadapi negara-negara Afrika dalam penelitian, pengadaan, dan produksi vaksin.

MEMBACA  Alexander Skarsgård Menjelaskan Bagaimana True Blood Mempersiapkannya untuk Murderbot

Dia menyerukan model pembiayaan dan manufaktur yang inovatif untuk menjembatani kesenjangan dan membangun kapasitas vaksin yang mandiri di seluruh Afrika.

“Saya ingin melihat pendekatan baru dalam pembiayaan, pengadaan vaksin, dan manufaktur untuk memastikan kepastian pasar bagi anggota DCVMN dan sektor yang lebih luas,” kata Sampath.

Dia menambahkan bahwa APTF sedang memasuki fase operasionalnya dan bertujuan untuk berpartisipasi penuh dalam memperkuat ekosistem vaksin Afrika pada pertemuan DCVMN berikutnya.

Para peserta Pertemuan Tahunan ke-26 DCVMN menegaskan bahwa memperkuat ketahanan kesehatan global bergantung pada kapasitas produksi vaksin yang lebih luas dan kemandirian, khususnya di antara negara-negara berkembang.

Dengan keterlibatan aktif Bio Farma sebagai salah satu anggota kunci jejaring tersebut, Indonesia berharap DCVMN akan terus mendorong kolaborasi praktis di antara industri dan pemerintah.

Kerjasama seperti ini sangat penting untuk memastikan tidak ada negara yang tertinggal dalam mencapai perlindungan kesehatan global yang adil.

Berita Terkait:
Bio Farma ikut tuan rumah Pertemuan DCVMN ke-26 untuk perkuat ketahanan vaksin
Bio Farma perkuat pengembangan vaksin global melalui DCVMN

Penerjemah: Aria Ananda
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2025