“Indonesia Alokasikan Rp54 Miliar untuk 122 Proyek Riset Universitas”

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) telah mengalokasikan dana sebesar Rp57 miliar (US$3,51 juta) untuk membiayai 122 program riset universitas guna memperkuat ekosistem inovasi nasional.

Pendanaan ini disalurkan melalui Program Bestari Saintek, yang diluncurkan bersamaan dengan Program Semesta dalam skema pendanaan APBN 2026 di Jakarta pada Rabu.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendikti Saintek, Ahmad Najib Burhani, mengatakan bahwa program ini menjaring inovasi dari akar rumput melalui proses seleksi yang sangat ketat.

Sebanyak 122 tim riset terpilih, yang melibatkan 854 dosen dan tenaga akademik, serta didukung oleh 341 mitra utama dan pendukung dari berbagai sektor.

Perguruan tinggi negeri mencakup 57,8 persen dari institusi yang berpartisipasi, sementara perguruan tinggi swasta berkontribusi 42,2 persen dari total tim.

“Angka ini menunjukkan peran penting perguruan tinggi negeri maupun swasta dalam mendorong riset nasional,” kata Najib saat pengumuman tersebut.

Pejabat ini menyoroti kontribusi institusi swasta yang semakin besar dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional melalui proyek-proyek kolaboratif ini.

Ia menambahkan, proyek-proyek tersebut mencakup delapan sektor strategis, dengan sektor pangan dan pertanian sebagai yang terbanyak (45 tim), diikuti oleh ilmu sosial, humaniora, seni, dan pendidikan (30 tim), serta kemaritiman (12 tim).

Sektor lainnya meliputi teknologi informasi dan komunikasi (9 tim), kesehatan dan farmasi (8 tim), penanggulangan bencana (8 tim), energi dan energi terbarukan (6 tim), serta material maju (4 tim).

Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, mengatakan bahwa pendanaan yang fleksibel memerlukan akuntabilitas yang kuat untuk memastikan hasil riset dapat diadopsi oleh industri.

“Mencairkan dana itu mudah. Yang lebih sulit adalah pertanggungjawabanya. Yang paling sulit adalah memastikan dana tersebut memberikan dampak nyata,” ujarnya.

MEMBACA  Teks ke Suara, Akses Informasi dengan Efisien dan Nyaman

Menteri Pendidikan Tinggi, Brian Yuliarto, mendesak para akademisi untuk tidak menjadikan publikasi ilmiah sebagai tujuan akhir dari upaya riset mereka.

“Yang salah adalah ketika kita berhenti di jurnal ilmiah. Itu tidak cukup. Riset harus dilanjutkan,” katanya kepada para peserta.

Tinggalkan komentar