Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia mengandalkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi untuk mengurangi tekanan pada tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah kelebihan beban. Volume sampah harian di puluhan kota telah melampaui batas kemampuan pengelolaan dan menimbulkan risiko lingkungan serta kesehatan yang semakin besar.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), yang dikenal juga sebagai PSEL, dirancang untuk mengurangi penumpukan sampah di TPA dengan mengubahnya menjadi listrik.
Menurut dia, fasilitas seperti ini merupakan langkah penting untuk mengatasi masalah sampah Indonesia yang semakin meningkat.
Banyak TPA saat ini beroperasi melampaui kapasitasnya, kata Kusumastuti. Hal ini terutama karena upaya pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dan masyarakat masih kurang.
Akibatnya, sebagian besar sampah masih langsung dibawa ke TPA tanpa diolah terlebih dahulu, ujarnya kepada ANTARA, Jumat.
“TPA tetap diperlukan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu, tetapi prosesnya harus dimulai dari hulu,” katanya, merujuk pada upaya pencegahan, pengurangan, dan pengolahan sampah.
Berita terkait: Tangsel di Banten tetapkan status darurat saat krisis sampah meningkat
Pendekatan itu, tambahnya, akan mengurangi beban TPA, menghemat penggunaan lahan, dan menurunkan tingkat polusi.
Kusumastuti mengatakan Kementerian PUPR berkoordinasi erat dengan ANTARA, kementerian lain, lembaga negara, dan pemerintah daerah untuk memastikan infrastruktur yang diperlukan bagi operasional teknis fasilitas PSEL.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah akan segera memulai pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi di 34 lokasi secara nasional. Ini merupakan salah satu peluncuran fasilitas semacam itu terbesar di Indonesia hingga saat ini.
Dia mengatakan proyek-proyek ini merupakan bagian dari strategi pemerintah, dengan peletakan batu pertama direncanakan antara bulan ini hingga Maret.
“Pembangkit listrik tenaga sampah akan dibangun di 34 kabupaten dan kota yang volume sampahnya telah melampaui 1.000 ton per hari dan membutuhkan penanganan segera,” kata Hadi.
Dia menyebutkan kawasan perkotaan di Indonesia kini menghasilkan rata-rata lebih dari 1.000 ton sampah per hari di beberapa lokasi, sehingga memberikan tekanan mendesak pada sistem pembuangan yang ada.
Pemerintah berharap program PSEL dapat secara signifikan mengurangi kerusakan lingkungan, membatasi emisi gas rumah kaca dari TPA, dan menurunkan risiko kesehatan masyarakat akibat sampah yang tidak terkelola, sekaligus menyumbang listrik ke jaringan setempat.
Berita terkait: Kudus terancam sanksi atas pengelolaan TPA yang buruk
Penerjemah: Aji Cakti
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026