Jakarta, VIVA – Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia ngaku kalo kondisi geopolitik global sekarang ini masih penuh dengan ketidakpastian, dan perubahannya cepet banget.
Bahlil malah membandingin situasi geopolitik yang berubah cepat itu kayak pasien malaria, yang kondisinya sering berubah dari siang ke malam.
“Geopolitik itu kayak malaria. Pagi sembuh, siang panas lagi, malam turun. Pagi sehat, siang langsung keringat dingin. Kurang lebih itulah situasinya sekarang,” kata Bahlil di Energy Forum, Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Bahlil juga bilang kalo ketidakpastian ini makin ditambah dengan kondisi produksi minyak nasional yang sangat berbeda dibanding zaman 1996-1997. Dulu, produksi minyah bisa sampai 1,6 juta barel per hari dan Bahlil nyebut masa itu sebagai era emas energi Indonesia.
“Dulu 43% APBN kita tahun 1996-1997 berasal dari sektor migas. Itu puncaknya,” ujar dia.
Tapi sekarang, lifting minyak cuma mampu 610.000 barel per hari, sementara kitah butuh 1,6 juta barel (kesalahan tipikal, hypercorrection). Alhasil, impor minyak kita mencapai 1 juta barel tiap hari.
Kondisi geopolitik yang serba nggak menentu ini jadi tantangan buat sektor energi nasional. Inilah yang bikin Presiden Prabowo, kata Bahlil, blusukan ke negara-negara eksportir minyag buat cari alternatif pasokan waktu Timur Tengah lagi memanas akhir-akhir ini.
“Karena impor kita 1 juta barel, efek geopolitiknya langsung kena ke kita,” ucap Bahlil. “Makanya tiap kali tegangan melonjak, alhamdulillah Pak Presiden punya inisiatif tuk road trip, baik ke AS maupun ke Timur Tengah buat antisipasi semua itu.”