Film Ghost in the Cell Tembus Satu Juta Penonton, Dibeli 86 Negara untuk Tayang di Bioskop

Kamis, 23 April 2026 – 22:15 WIB

Jakarta, VIVA – Industri perfilman Indonesia lagi-lagi catat prestasi yang membanggakan. Film baru besutan Joko Anwar, Ghost in the Cell, berhasil tembus satu juta penonton cuma dalam enam hari sejak pertama tayang di bioskop tanah air.

Pencapaian ini nunjukin betapa tingginya antusias publik sama film dari Come and See Pictures, apalagi pas momen pasca-Lebaran yang emang jadi periode strategis buat hiburan. Respons positif ini makin ngegas posisi Ghost in the Cell sebagai salah satu film paling ditunggu tahun ini. Scroll terus ya!

Keberhasilan ini juga bikin rekor baru buat Joko Anwar. Dia jadi satu-satunya sutradara Indonesia yang mampu bawa tujuh film berturut-turut dapat lebih dari satu juta penonton di bioskop. Sebelumnya, deretan karya sukses kayak Pengabdi Setan, Gundala, sampe Siksa Kubur udah lebih dulu cetak prestasi serupa.

Enggak cuma jaya di dalam negeri, Ghost in the Cell juga bikin tonggak penting di pasar internasional. Film ini kabarnya udah dibeli sama 86 negara buat tayang di bioskop luar—angka yang nunjukin daya tarik global sinema Indonesia, khususnya karya Joko Anwar.

“Misi kami pas bikin film ini adalah biar setidaknya selama 1 jam 46 menit kita, para Warga Negara Indonesia (WNI) bisa ngerasa menang. Enggak nyangka bakal disambut sehangat ini. Perasaan kita sama. Mudah-mudahan keadilan bisa datang, dan enggak harus nunggu hantu turun tangan,” kata penulis dan sutradara Joko Anwar, dikutip Kamis 23 April 2026.

Secara reputasi internasional, Joko Anwar juga dikenal sebagai sineas Indonesia yang konsisten tembus festival film kelas dunia. Namanya tercatat pernah masuk seleksi resmi Sundance Film Festival, Berlinale, Venice Film Festival, juga Toronto International Film Festival lewat karya-karya berbeda, termasuk Ghost in the Cell yang melakukan premiere internasional di Berlinale 2026.

MEMBACA  Komitmen Biaya Perjalanan Haji Mencapai $7.000 per Kuota

Dari sisi cerita, film ini angkat latar kehidupan keras di dalam penjlara fiktif Labuhan Angsana. Para narapidana digambarkan harus hadapin penindasan aparat serta konflik antar sesama tahanan ada sedikit pertengkaran.

Situasi berubah mencekam pas seorang napi baru datang dan kematian misterius mulai terjadi satu per satu. Teror itu dikaitkan dengan sosok hantu yang memburu individu dengan aura paling negatif.

Tinggalkan komentar