Selasa, 3 Maret 2026 – 04:15 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia di kantornya pada Sabtu, 28 Februari 2026, akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kepergiannya merupakan duka dan kehilangan yang sangat besar bagi seluruh rakyat Iran.
Pemerintah Iran bahkan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah wafatnya pemimpin negara itu. Setelah berita kematiannya tersebar, banyak publik yang kembali mendiskusikan sosok Ayatollah.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah kebiasaan khas Ayatollah, yaitu menyembunyikan salah satu tangannya di balik jubahnya. Kini, setelah kematiannya, alasan di balik kebiasaan itu akhirnya terungkap.
Melansir laman NDTV, Rabu 3 Maret 2026, delapan tahun sebelum menjadi pemimpin tertinggi Iran, dia pernah selamat dari percobaan pembunuhan. Namun, dia mengalami cedera permanen di tangannya yang kemudian menjadi ciri khas penampilannya.
Insiden ini terjadi pada tanggal 27 Juni 1981. Saat itu, Ayatollah pergi ke sebuah masjid untuk menunaikan salat setelah pulang dari perang Iran-Irak. Setelah salat, ia berbicara kepada para pengikutnya dan menjawab berbagai pertanyaan.
Salah satu orang yang digambarkan sebagai pemuda berambut keriting, berjanggut, dan memakai jas kotak-kotak pernah meletakkan sebuah tape recorder di atas meja di depan Khamenei, lalu menekan tombolnya. Sekitar satu menit kemudian, alat itu mengeluarkan bunyi siulan sebelum akhirnya meledak.
Di dalam tape recorder tersebut terdapat pesan bertuliskan, “Hadiah dari Kelompok Furqan untuk Republik Islam.” Kelompok Furqan diketahui sebagai kelompok militan yang menentang pemerintahan ulama saat itu.
Akibat ledakan itu, Khamenei membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pulih dari luka di lengan kanan, pita suara, dan paru-parunya. Sebagian lukanya memang sembuh, tetapi lengan kanannya mengalami kelumpuhan permanen.
“Saya tidak membutuhkan tangan itu. Cukup jika otak dan lidah saya masih berfungsi,” ujarnya kala itu.
Ia kemudian belajar menulis dengan tangan kiri dan perlahan-lahan naik menjadi bagian dari lingkaran inti kepeminpinan dalam struktur keagamaan Iran.
Selama puluhan tahun, Khamenei mendominasi kehidupan politik dan keagamaan Iran. Meskipun begitu, informasi tentang istri, anak, dan cucunya relatif tertutup.
Ia meninggalkan seorang istri, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, serta enam orang anak. Sejumlah kerabat jauhnya diyakini tinggal di luar negeri, termasuk laporan tentang keponakan dan cucu yang menetap di Paris. Namun, keluarga intinya tetap tinggal di Iran.
Menurut laporan Axios, Khamenei yang berusia 86 tahun telah memimpin Iran selama 35 tahun, menjadikannya salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia. Kematiannya menjadi pukulan besar bagi rezim dan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kepemimpinan Iran, terlebih sebelumnya pejabat Amerika Serikat dan Israel secara terbuka menyatakan ingin melemahkan pemerintahan yang berkuasa di negara tersebut.