Fadli Zon Dorong Ilmuwan Perkuat Sejarah Berpusat pada Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong para ilmuwan Indonesia untuk aktif mendukung narasi sejarah yang berpusat pada Indonesia dengan mendokumentasikan temuan mereka secara menyeluruh dan mempublikasikan karya lebih luas.

Berbicara dalam seminar sejarah yang dihadiri pada Sabtu, menteri mengatakan tradisi lisan Indonesia yang kuat, meski berharga, juga berkontribusi pada terbatasnya ketersediaan catatan sejarah tertulis yang berfokus pada sudut pandang Indonesia.

“Tradisi lisan itu penting, tapi jangkauannya terbatas oleh waktu. Sebaliknya, tulisan itu abadi. Publikasi atau punah. Kita harus menulis sejarah bangsa kita sendiri,” kata Zon.

Dia mencatat bahwa sebagian besar dokumentasi yang ada tentang sejarah dan keanekaragaman alam Indonesia dihasilkan oleh penjelajah Eropa, khususnya dari Belanda, mantan penjajah Indonesia.

Sebagai contoh, Zon menyebutkan catatan awal tentang keanekaragaman hayati di Ambon, Maluku, yang disusun oleh Georg Eberhard Rumphius, seorang ahli botani kelahiran Jerman yang bekerja untuk Perusahaan Hindia Timur Belanda.

Dia juga menyebut naturalis Inggris Alfred Russel Wallace, yang melakukan penelitian luas di seluruh kepulauan Indonesia, mendokumentasikan pengamatannya dan mengumpulkan banyak spesimen selama perjalanannya.

Menurut menteri, catatan sejarah penting tentang Borobudur ditulis oleh C. Leemans pada 1873 dan kemudian oleh perwira Belanda Theodoor van Erp pada 1920, yang berperan besar dalam pemugaran candi.

“Orang Belanda mendokumentasikan segalanya, dari jurnal perjalanan hingga catatan teknis terperinci,” ujar Zon.

Merenungkan warisan ini, dia menekankan pentingnya peneliti Indonesia memperluas upaya penelitian dan dokumentasi mereka sendiri untuk memperkuat narasi sejarah nasional.

“Penting bagi kita untuk menemukan kembali identitas Indonesia dengan meninjau ulang, menyempurnakan, dan memperhalusnya. Saya yakin identitas kita kuat, tetapi masih belum sepenuhnya tergali,” katanya.

MEMBACA  Maureen Flavin Sweeney, yang Melambatkan Laporan Cuacanya D-Day, Meninggal pada Usia 100 Tahun

Zon juga menyampaikan harapan agar masyarakat Indonesia, khususnya sejarawan, arkeolog, antropolog, dan sosiolog, dapat berperan lebih aktif dalam menulis dan mencatat sejarah bangsa.

“Jika seseorang ingin memahami Indonesia hari ini, mereka juga harus melihat ke masa lalu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak terpisahkan,” tambahnya.

Berita terkait: Indonesia akan terbitkan buku sejarah tentang pahlawan nasional

Berita terkait: Indonesia menulis ulang sejarah untuk bangun identitas lebih kuat: Menteri

Penerjemah: Sri Dewi Larasati, Nabil Ihsan
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026