Senin, 9 Februari 2026 – 15:09 WIB
Jakarta, VIVA – Dalam 10 tahun terakhir, struktur keluarga telah berubah dan interaksi di rumah jadi lebih terpecah-pecah. Hal ini terutama didorong oleh penggunaan teknologi yang luas dan perubahan norma sosial.
Baca Juga :
Jurnalisme vs Konten AI, Begini Kata Nezar Patria
Lalu, apa yang akan terjadi di dekade mendatang? Menurut survei Kaspersky, 81% orang percaya bahwa digitalisasi akan mengubah aktivitas keluarga secara fundamental dalam 10 tahun ke depan.
Perubahan ini menunjukkan masa depan dimana ikatan keluarga dipengaruhi teknologi canggih, yang menciptakan norma dan tantangan baru dalam porsi yang sama. Waktu di depan layar kini menjadi waktu keluarga, tapi ini juga punya resikonya.
Baca Juga :
AI Bisa Bikin Orang Kaya Raya, Bagaimana Caranya?
Hampir setengah (48%) responden global membayangkan dongeng pengantar tidur yang dibantu AI akan menjadi kebiasaan baru. Angka ini naik jadi 53% di kalangan usia 18–34 tahun.
Bagi pengguna di Indonesia, persentase ini bahkan lebih tinggi, yaitu 58%. Saat ini, aplikasi dan perangkat pintar sudah menawarkan dongeng yang diceritakan AI dengan karakter yang bisa disesuaikan dan alur cerita menarik.
Baca Juga :
Robot AI Ambil Alih Pekerjaan Kasar, Profesi Kerah Biru Mulai Tak Aman?
Bagi orang tua yang sibuk, ini adalah bantuan baru. Bagi anak, ini bisa jadi pendongeng interaktif yang sangat sabar. Sementara itu, 31% keluarga di Indonesia memprediksi anak-anak mereka akan memilih hewan peliharaan digital daripada yang asli.
Namun, perlu diingat bahwa meskipun AI berpotensi memperkaya hidup anak, tetap dibutuhkan kewaspadaan. Saat anak berinteraksi dengan AI, baik untuk cerita atau belajar, orang tua harus lebih proaktif.
Pilh layanan dengan kebijakan privasi kuat yang tidak menyimpan atau menyalahgunakan data dan interaksi suara anak. Kontrol juga bisa ditingkatkan dengan asisten pengasuhan digital untuk membatasi konten dan menyeimbangkan waktu layar.
Orang tua akan lebih baik jika memperlakukan interaksi AI seperti taman bermain digital baru. Mereka bisa menggunakan kontrol orang tua untuk membatasi durasi, memilih platform cerita AI yang terverifikasi dan sesuai umur, dan yang paling penting, menjaga dialog terbuka tentang cerita-cerita ini dan cara pembuatannya.
Jelaskan pada anak-anak bahwa AI adalah alat, bukan teman. Dorong mereka untuk melaporkan interaksi yang aneh atau tidak nyaman, seperti yang mereka lakukan di dunia nyata. Kuncinya adalah memastikan AI melengkapi interaksi manusia, bukan menggantikan kenyamanan suara orang tua.
Halaman Selanjutnya
Sebanyak 43% lainnya memprediksi perayaan keluarga akan beralih ke format panggilan video sebagai standar, bukan pengecualian. Tren ini dipercepat oleh peristiwa global baru-baru ini dan kini dilihat sebagai bagian permanen bagi keluarga yang tersebar. Indonesia memiliki persentase lebih tinggi, yaitu 49%.