WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) yang sudah dipecat, Rizal Fadillah, menilai langkah Eggi Sudjana bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo pada 8 Januari 2026 menyimpang dari semangat perjuangan mereka. Menurutnya, ini bisa menimbulkan masalah serius, termasuk dugaan penistaan agama.
Hal itu dia sampaikan di kanal YouTube Forum Keadilan TV, saat menanggapi pertemuan Eggi Sudjana dan Damai Lubis dengan Jokowi. Rizal menyebut pertemuan itu dilakukan sepihak dan tanpa sepengetahuuan TPUA, Rabu (14/1/2026).
“Dalam konteks perjuangan, itu sudah keluar jalur. Dari awal tidak pernah ada agenda negosiasi, apalagi pertemuan rahasia. Makanya wajar publik menilai ini seperti pengkhianatan terhadap semangat perjuangan bersama,” kata Rizal Fadillah, yang juga jadi tersangka dalam kasus terkait tuduhan ijazah Jokowi palsu.
Menurut Rizal, TPUA sejak awal berkomitmen untuk menuntut pertanggungjawaban Jokowi terkait polemik ijazah, bukan untuk berkompromi dengannya.
Ia menegaskan, sebelum masalah itu jelas dan transparan, seharusnya tidak ada pendekatan secara personal.
Rizal juga menyoroti lambatnya klarifikasi dari Eggi Sudjana setelah pertemuan tersebut.
Ia menilai keterlambatan itu malah memicu fitnah dan prasangka buruk di masyarakat.
“Kalau berdasarkan agama, fitnah dan prasangka itu haram. Pertemuan ini tertutup, diam-diam, dan justru dengan pihak yang sedang kita pertanyakan. Ini implikasinya bisa luas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rizal menyinggung pernyataan Eggi Sudjana yang membandingkan pertemuannya dengan Jokowi seperti Nabi Musa dan Harun menghadapi Firaun.
Menurutnya, analogi itu tidak tepat dan berbahaya, serta berpotensi menistakan agama.
“Ini perumpamaan yang salah dan bisa dianggap sebagai penistaan agama. Kisah Musa dan Harun adalah perintah langsung dari Allah untuk membebaskan Bani Israil, bukan untuk negosiasi pribadi atau kepentingan hukum,” tegas Rizal.
Ia menilai penggunaan dalil agama untuk membenarkan langkah politik atau kepentingan pribadi justru merusak nilai agama itu sendiri.
“Bisa berpotensi menista agama kalau dipikir lebih dalam,” katanya.
Rizal mengingatkan bahwa tafsir yang keliru dapat menyesatkan umat dan memicu konflik.
Rizal secara khusus mengkritik pernyataan Eggi Sudjana yang membandingkan pertemuannya dengan Jokowi seperti Nabi Musa dan Nabi Harun yang diperintahkan Allah menemui Firaun. Menurut Rizal, analogi tersebut tidak tepat dan berpotensi menyebabkan penafsiran yang salah.