Meski rudal dan drone silih berganti di udara, para wisatawan tetep berpesta di dalam kapal pesiar. Foto/X/@Mohamed22072826
TEHERAN – Lesley Ballantyne terbangun pagi-pagi sekali karena ada peringatan darurat yang berkedip di hpnya: “Ancaman rudal potensial, segera cari perlindungan di bangunan aman terdekat.”
Suaminya, Alistair, kelihatanya masih tidur nyenyak. Ballantyne bangun dari tempat tidur dan mengintip lewat jendela kabin. Di luar, cuma gelap — dan lampu-lampu pelabuhan Dubai yang terang.
Waktu itu hari Minggu.
Dua hari kemudian, Ballantyne masih berada di atas MSC Euribia, kapal pesiar sepanjang 331 meter dengan 19 dek yang sedang berlabuh di Dubai.
Euribia adalah satu dari beberapa kapal yang sekarang tidak bisa meninggalkan Timur Tengah karena konflik Iran yang makin meningkat. Bagi ribuan penumpang dan kru kapal, perjalanan liburan biasa melewati pelabuhan Teluk dan Laut Merah telah berubah jadi permainan tunggu yang penuh ketidakpastian. Kapal-kapal ini mengubah rute, menunda keberangkatan, atau tetap berlabuh karena kekhawatiran keamanan.
“Kami dengar beberapa ledakan keras, lihat beberapa rudal dicegat dari kapal, tapi semuanya kelihatannya jauh,” kata Ballantyne, yang berasal dari Skotlandia, kepada CNN Travel.
Setelah peringatan darurat itu, saat dia tidak lihat apa-apa di luar jendela, dia pikir hal satu-satunya yang bisa dilakukan adalah tidur lagi. “Ga keliatan apa-apa. Jadi aku balik tidur.”
Bagi Ballantyne, momen itu mewakili keanehan dari seluruh situasi — perasaan yang juga dirasakan penumpang lain.
“Ga pernah, sama sekali ga pernah, kami bayangkan akan terjebak dalam situasi kayak gini,” kata Sharon Cockram, penumpang asal Inggris lainnya di Euribia, kepada CNN. “Ini selalu sesuatu yang kamu tonton di TV dari rumah.”
Kapal dan penumpangnya sepertinya tidak akan kemana-mana dalam waktu dekat. Wilayah udaranya ditutup atau dibatasi, dan kapal tidak bisa bawa penumpang pulang lewat laut karena menghindari Selat Hormuz, jalur air yang biasanya ramai antara Teluk Persia dan Teluk Oman.