Jakarta (ANTARA) – Dewan Energi Nasional Indonesia akan mengadakan rapat pada hari Selasa untuk menilai dampak dari eskalsasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan AS. Hal ini muncul akibat kekhawatiran bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat membebani ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini.
Anggota Dewan, Satya Widya Yudha, menyatakan bahwa ketua pelaksana sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, akan memimpin rapat di Kementerian ESDM di Jakarta.
Enam belas anggota — terdiri dari delapan menteri dan delapan perwakilan non-pemerintah — akan hadir untuk mengevaluasi risiko yang timbul dari ketegangan Timur Tengah, kata Yudha di Jakarta pada Selasa.
Konflik ini telah meningkatkan kekuatiran terhadap gangguan pada pasokan minyak dan gas global, yang menimbulkan risiko bagi Indonesia. Sebagai importir energi bersih, Indonesia rentan terhadap gejolak harga bahan bakar internasional.
Dalam menyusun respons, dewan akan merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2016, yang menetapkan prosedur untuk menetapkan krisis atau darurat energi serta menguraikan langkah-langkah mitigasi, ujar Yudha.
“Rapat hari ini akan fokus pada perkembangan di Timur Tengah,” tambahnya, menandakan keprihatinan pemerintah atas potensi dampaknya pada pasar energi domestik.
Berita terkait: Konflik AS-Iran guncang pasokan minyak, Indonesia siagakan menteri
Harga minyak mentah global telah naik sekitar sembilan hingga sepuluh persen seiring meningakatnya kekhawatiran keamanan. Brent bahkan mencapai lebih dari $80 per barel untuk pertama kalinya sejak 23 Juni tahun lalu, menurut data yang dikutip Sputnik pada 2 Maret.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pada Senin bahwa ketegangan regional telah mendorong Iran membatasi akses ke Selat Hormuz. Hal ini mengganggu aliran minyak dan berisiko menaikkan biaya bahan bakar di dalam negeri.
Gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat membebani anggaran Indonesia, yang mengalokasikan dana besar untuk subsidi energi guna melindungi konsumen dari harga global yang fluktuatif.
Airlangga menyatakan pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah kontijensi untuk membatasi risiko, termasuk mendiversifikasi impor minyak mentah dan bahan bakar dari luar Timur Tengah.
Dia menunjuk pada kesepakatan antara perusahaan energi negara, Pertamina, dengan perusahaan-perusahaan AS yang bertujuan mengamankan pasokan alternatif. Ini membantu menstabilkan ketersediaan domestik jika gangguan semakin parah.
Indonesia sangat bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar olahan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, menjadikannya sensitif terhadap gejolak geopolitik di rute transit kunci seperti Selat Hormuz.
Pembahasan dewan diharapkan dapat membentuk respons kebijakan jangka pendek, termasuk penyesuaian potensial pada strategi impor, penimbunan, dan pengelolaan subsidi jika konflik semakin intensif.
Berita terkait: Pemerintah dan Pertamina akan bahas dampak konflik Iran-Israel
Penerjemah: Shofi Ayudiana, Tegar Nurfitra
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026