Demi Privasi, Bukan untuk Dijual: Alasan Para Konglomerat Gemar Menggadaikan Tas dan Jam Tangan Mewah

Jumat, 10 April 2026 – 23:50 WIB

Jakarta, VIVA – Di tengah situasi ekonomi global yang tidak pasti, cara orang mengatur keuangannya mulai berubah. Konflik geopolitik, naik turunnya nilai tukar mata uang, dan harga komoditas yang tekan membuat banyak orang lebih hati-hati dalam mengambil keputusan keuangan. Tapi, ada fenomena menarik yang terjadi: orang-orang kaya malah memilih untuk menggadaikan barang mewah mereka, bukannya menjualnya.


Bahkan Orang Kaya Ngerem Beli Mobil Baru

Tas branded, jam tangan mewah, sampai mobil premium sekarang nggak cuma dilihat sebagai simbol gaya hidup. Barang-barang itu mulai dipakai sebagai sumber dana cair yang fleksibel, tanpa harus hilang kepemilikannya. Scroll untuk baca lebih lanjut, yuk!

Perubahan ini sejalan dengan makin sadarnya orang bahwa barang mewah punya nilai yang cukup stabil, bahkan kadang bisa naik harganya. Di sisi lain, kebutuhan akan uang tunai tetap ada, baik buat menjaga cash flow bisnis atau memenuhi kebutuhan mendesak. Kondisi ini bikin dilema: antara pertahankan aset atau dapatkan uang tunai.


Bea Cukai Jakarta Perketat Pengawasan Peredaran Jam Tangan Mewah

Perwakilan dari deGadai, sebuah perusahaan pergadaian, menyebutkan bahwa masyarakat sekarang mulai paham kalau butuh dana nggak harus selalu dengan jual aset.

“Gadai itu memberi fleksibilitas. Nasabah tetap dapet dana yang diperlukan, tapi masih ada kesempatan buat menebus asetnya kembali,” ujarnya melalui keterangan yang diterima VIVA, dikutip Jumat 10 April 2026.


Tren Fashion 2026, Begini Model Tas yang Paling Disukai Gen Z

Cara ini dinilai lebih adaptif dengan kondisi ekonomi yang dinamis. Dengan menggadaikan barang, pemilik aset tetap bisa dapat uang tunai dengan cepat, tanpa kehilangan potensi kenaikan harga asetnya di masa depan.

MEMBACA  Indonesia dan Selandia Baru membahas kerja sama pertanian untuk program makanan gratis

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan cara pandang terhadap gadai. Kalau dulu identik sama kondisi darurat, sekarang gadai mulai dipakai sebagai bagian dari strategi kelola keuangan. Khususnya di kalangan premium, gadai dipakai untuk jaga likuiditas, optimalkan peluang bisnis, dan hindari jual aset di waktu yang kurang tepat.

Contohnya, seseorang yang punya jam tangan mewah atau tas branded bernilai ratusan juta tiba-tiba butuh dana cepat. Jual aset memang memberi solusi instan, tapi sifatnya final. Sebaliknya, dengan gadai jam tangan atau gadai tas mewah kayak Hermes, Dior, atau Louis Vuitton, dananya tetap bisa didapat, sementara asetnya masih bisa ditebus kembali saat kondisi keuangan membaik.

Halaman Selanjutnya

Tren ini diperkirakan akan makin kuat seiring dengan makin tingginya ketidakpastian global. Faktor-faktor seperti gejolak ekonomi, kesadaran akan nilai aset, dan kebutuhan akan fleksibilitas keuangan jadi pendorong utamanya.

Tinggalkan komentar