Senin, 18 Mei 2026 – 19:15 WIB
Jakarta, VIVA – IKEA dikabarkan bakal memangkas 850 karyawan. Langkah ini bagian dari efisiensi di tengah melemahnya belanja konsumen global dan naiknya biaya operasional.
Pemutusan hubungan kerja (PHK) dilakukan oleh Inter IKEA, perusahaan pengelola waralaba IKEA di 63 negara. Saat ini, IKEA dihadapkan pada tekanan akibat kenaikan biaya, tarif impor Amerika Serikat, serta penurunan permintaan konsumen.
Perusahaan juga tengah mengubah strategi bisnis dengan memperbanyak toko kecil di pusat kota dan mengurangi ketergantungan pada gerai besar di pinggiran.
Chief Financial Officer Inter IKEA, Henrik Elm, mengatakan perusahaan perlu bergerak lebih cepat dan efisien. “Kami perlu mejadi lebih cepat, memperpendek proses pengambilan keputusan, dan fokus pada prioritas,” katanya, dikutip dari Reuters, Senin, 18 Mei 2026.
Sebelumnya, IKEA mencatat penurunan penjualan selama dua tahun berturut-turut. Pada akhir tahun lalu, Inter IKEA dan Ingka Group selaku operator toko IKEA terbesar juga mengganti CEO masing-masing.
Ingka Group pada Maret 2026 turut mengumumkan pemangkasan 800 pekerja kantoran. Menurut Elm, perang ini mempercepat penurunan kepercayaan konsumen global. Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik meningkatkan pengeluaran rumah tangga, yang akhirnya mengurangi belanja barang non-prioritas seperti furnitur and renovasi rumah.
"Di saat kepercayaan konsumen sangat terpengaruh, pendapatan yang bisa dibelanjakan bener-bener menurun, terutama bagi konsumen yang ingin kami jangkau,” ucap Elm. Ia mengatakan IKEA kini harus menekan biaya agar tetap mampu menawarkan harga murah.
“Kemampuan kami menurunkan harga demi menarik konsumen menjadi lebih penting dari sebelumnya. tentu saja itu tidak bisa tercapai jika struktur biaya terlalu tinggi.”
Dari total 850 karyawan yang terkena PHK, sekitar 300 orang berasal dari Swedia, termasuk di Almhult yang merupakan pusat utama IKEA. Jumlah tersebut setara sekitar 3 persen dari total 27.500 pekerja Inter IKEA di seluruh dunia.