Jumat, 6 Februari 2026 – 11:50 WIB
Jakarta, VIVA – Bank Indonesia mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 turun menjadi US$154,6 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi di akhir Desember 2025 yang sebesar US$156,5 miliar.
Baca Juga :
OJK Cermati Keputusan Moody’s Pangkas Outlook Rating Utang RI Jadi Negatif, Ini yang Disoroti
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, penurunan cadangan devisa ini antara lain disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
"Hal itu merupakan respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," ujar Ramdan, Jumat (6/2/2026).
Baca Juga :
Moody’s Turunkan Outlook Rating Utang, BI Tegaskan Tak Cerminkan Fundamental Ekonomi RI
Posisi cadangan devisa akhir Januari 2026 itu setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini tetap berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," tambahnya.
Baca Juga :
Rupiah Melemah seiring Proyeksi Bank Dunia soal Iklim Usaha dan Investasi RI
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik. Hal ini didukung oleh cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional.
"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal untuk menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," pungkasnya.
Rupiah Melemah usai Laporan Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 sebesar 5,1 Persen
Hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.865 per dolar AS. Posisi itu melemah 23 poin atau 0,14 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.842 per dolar AS.
VIVA.co.id
6 Februari 2026