Minggu, 11 Januari 2026 – 19:24 WIB
VIVA – Setelah lebih dari dua dekade dikenal lewat seri perjalanan *The Naked Traveller*, penulis Trinity kembali hadir dengan karya yang berbeda. Lewat buku terbarunya berjudul *Di Luar Radar: Kisah Keberagaman dari Kuburan Jakarta sampai Hutan Amazon*, Trinity tidak lagi cuma ajak pembaca keliling dunia. Ia ajak kita lihat realitas sosial yang sering terlewat dari perhatian.
Baca Juga :
Stafsus Menag Serukan Jaga Indonesia Lewat Kerukunan Antarumat Beragama
Buku ini menandai fase baru dalam perjalanan tulis-menulis Trinity. Kalau dulu ia dikenal dengan kisah perjalanan yang personal, kali ini pendekatannya lebih reflektif dan observatif. Tema utamanya adalah keberagaman, prasangka, dan toleransi. Scroll ke bawah untuk baca artikel lengkapnya.
Dalam peluncuran bukunya, Trinity tekankan bahwa karya ini lahir dari keinginannya untuk keluar dari zona nyaman.
Baca Juga :
Bedah Buku dan Refleksi Kunjungan Paus Fransiskus
“Jadi aku memang menantang diri untuk nulis sesuatu yang baru. Tapi karena basic aku adalah travel writer, ya jadi nyerempet-nyerempet jalan-jalan juga. Jalan-jalannya kali ini lebih filosofis, lebih dalam,” kata Trinity di Sarinah, Jakarta Pusat.
Sesuai judulnya, *Di Luar Radar* berisi cerita-cerita yang kurang populer dan jarang dibicarakan. Trinity sengaja pilih tema-tema yang sering dianggap sepi dan tidak menarik bagi banyak orang.
Baca Juga :
Terima Audiensi Forum Keberagaman Nusantara, Kapolri Mau Komitmen Jaga Kerukunan Diperkuat
“Tema besarnya adalah isu keberagaman. Segala hal yang suaranya sunyi, jarang dibicarakan orang, tapi penting,” ujarnya lagi.
Buku ini memuat 22 kisah nyata. Mulai dari kehidupan ibu-ibu yang tinggal di sekitar kuburan Jakarta, pengalaman mondok di pesantren sebagai non-Muslim selama 24 jam, hingga kisah misionaris Indonesia yang bertugas di pedalaman hutan Amazon.
Tentang cerita kuburan Jakarta, Trinity cerita bahwa pengalamannya bergaul dengan warga sana membuka perspektif baru.
“Aku berteman dengan orang-orang yang tinggal secara ilegal di pinggiran kuburan. Mereka ramah dan baik, tapi literasi finansialnya rendah,” jelasnya.
Tak hanya di dalam negeri, Trinity juga bawa pembaca ke Amerika Latin. Dari residensi penulis yang ia jalani, muncul fakta menarik yang jarang diketahui.
“Ternyata setelah aku temui selama di sana, Indonesia yang mayoritas Muslim ini adalah pengekspor misionaris Katolik terbesar di dunia, terutama dari satu pulau di Flores,” jelasnya lagi.