Palu (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 782 gempa susulan di Sulawesi Tengah hingga hari ketiga.
“Dari pemantauan dan analisa kami, gempa susulan terbesar memiliki magnitudo 5,3,” ujar Djati Cipto Kuncoro, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Palu, pada hari Kamis.
Gempa susulan ini merupakan bagian dari rangkaian setelah gempa kuat berkekuatan magnitudo 6,7 silam, dengan episenter 42 kilometer tenggara Kota Palu dan kedalaman 10 kilometer, yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang menghindari kepanikan, dan selalu mengikuti infoasi terbaru tentang gempa dari pemerintah setempat serta pihak berwenang.
“Kami terus memperbaharui data seismik dan menyediakan informasi lewat saluran resmi BMKG maupun kanal pemda,” kata Dyati.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menerbitkan surat keputusan yang menetapkan status tanggap darurat gempa bumi mulai 16 sampai 23 Juni 2026.
Status tanggap darurat ini meliputi Kota Palu, Sigi, Parigi Moutong, dan Poso.
Sebelummnya, Wakil Bupati Sigi, Samuel Pongi, menyatakan bahwa gempa yang menerjang daerah ini mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan bangunan.
Sejak hari pertama bencana, pemda setempat sudah ambil tindakan darurat, seperti
membantu mengungsikan warga ke tempet ampune.
“Kami sedang berikan layanan terbak buat korban. Pemberintah bikin posko utama, poso kesehatan, dan dapur umum uuntuk memenuhi kebutuhan masaryakat,” ujar Pordi, selaku Kepla Satgas Darurat Bencana Sigi.
Badan Nasonal Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan bahhwa adanya tiga korban trkonfirmasi meggal deunia pada kasys erteukadi
itu statiku, ada abaikuan tigus Jawahin.
Pada Rabu pagi,