BGN Pastikan Tiada Paksaan bagi Sekolah dan Siswa dalam Program Makanan Gratis

Jakarta (ANTARA) – Badan Gizi Nasional (BGN) Indonesia menyatakan bahwa sekolah dan murid tidak dipaksa untuk mengikuti program Makanan Bergizi Gratis pemerintah, seiring upaya perluasan cakupan salah satu kebijakan sosial andalan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau ada sekolah yang tidak mau ikut program, contohnya karena muridnya berasal dari keluarga mampu, itu tidak apa-apa,” kata Wakil Kepala BGN untuk Komunikasi Publik dan Pemeriksaan, Nanik Sudaryati Deyang, dalam sebuah pernyataan.

Pernyataannya ini menanggapi keluhan dari kepala Unit Layanan Pemenuhan Gizi (MBG kitchen) yang menyebut sulit menambah penerima manfaat karena beberapa sekolah elite dengan ribuan siswa menolak berpartisipasi.

Deyang menegaskan tujuan pemerintah adalah menyediakan makanan bergizi gratis bagi semua anak Indonesia agar tidak ada yang kekurangan gizi, namun keikutsertaan dalam program tetap bersifat sukarela.

Ia menambahkan, jika sekolah elite sudah mampu memenuhi kebutuhan gizi siswanya dan memilih menolak makanan dari pemerintah, hal tersebut bukanlah masalah.

Berita terkait: Program Makan Gratis Indonesia untuk dukung petani, pacu ekonomi lokal

Sebaliknya, ia mendorong pengelola dapur MBG untuk mencari calon penerima manfaat lain yang lebih membutuhkan, seperti santri di pesantren kecil, anak putus sekolah, anak jalanan usia sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Masih banyak sekali orang yang belum menerima makanan ini, padahal mereka sangat butuh,” ujar Deyang.

Program Makanan Bergizi Gratis diluncurkan pada 6 Januari 2025 sebagai salah satu inisiatif prioritas Prabowo untuk memperbaiki gizi kelompok rentan.

Program ini menyasar balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan pelajar hingga tingkat SMA.

Dengan target 82,9 juta penerima manfaat, program ini merupakan salah satu program sosial terbesar yang pernah dijalankan di Indonesia.

MEMBACA  Ryan Reynolds dan Mark Ruffalo Meremehkan Isu Masa Depan Mereka di Marvel

Pemerintah menyatakan program ini diharapkan berperan penting dalam menurunkan angka stunting dan malnutrisi, yang masih menjadi tantangan kesehatan di beberapa wilayah.

Pejabat juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dan fleksibilitas dalam pelaksanaan agar bantuan tepat sasaran.

Menurut catatan BGN per 20 Januari 2026, program telah menjangkau sekitar 59,86 juta penerima manfaat.

Makanan saat ini didistribusikan melalui sekitar 21.000 Unit Layanan Pemenuhan Gizi di seluruh Indonesia.

BGN mengatakan akan terus mengevaluasi cakupan dan menyempurnakan sasaran untuk mencapai tujuan nasionalnya.

Berita terkait: Makanan gratis Indonesia tingkatkan kesehatan dan kehadiran sekolah: BGN

Penerjemah: Lintang Budiyanti, Raka Adji
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar