Senin, 5 Januari 2026 – 17:30 WIB
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengkritik keras pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan melakukan aksi militer ke Kolombia. Ancaman ini muncul setelah Trump menuduh Petro terlibat dalam bisnis narkoba.
Baca Juga:
Menko Airlangga Sebut Konflik AS-Venezuela Belum Berdampak ke Harga Minyak
Trump memberikan ancaman itu saat berbicara dengan wartawan di pesawat Air Force One, Minggu malam. Dia menyamakan Kolombia dengan Venezuela dan menyebut negara itu “sangat sakit” dan dipimpin oleh “orang sakit” yang memproduksi dan menjual kokain ke AS.
Saat ditanya apakah AS akan melakukan intervensi militer di Kolombia, Trump menjawab, “Kedengarannya bagus untuk saya.” Dia juga menuduh, tanpa bukti, bahwa Kolombia bertanggung jawab atas banyak kematian karena perdagangan narkoba.
Baca Juga:
Dari Sanksi ke Investasi: Cadangan Minyak Terbesar Dunia Diincar Trump
Respon Tegas dari Petro
Petro langsung membantah tuduhan tersebut. Dia menegaskan namanya tak pernah tercatat dalam berkas pengadilan manapun.
Baca Juga:
Konflik Venezuela Hantui Harga Minyak Dunia, Airlangga: Tak Ada Gejolak yang Tinggi
“Hentikan fitnah kepada saya, Tuan Trump,” tulis Petro di media sosial. Dia menyebut pernyataan Trump sebagai ancaman yang tidak pantas kepada seorang presiden Amerika Latin.
“Bukan begitu caranya mengancam seorang presiden Amerika Latin yang berasal dari perjuangan bersenjata dan kemudian dari perjuangan rakyat Kolombia untuk perdamaian,” kata Petro.
Dalam unggahan lain di hari yang sama, Petro menegaskan penolakannya pada pendekatan militer. “Teman seharusnya tidak membom,” tulisnya, mengacu pada hubungan sejarah Kolombia dan AS sebagai mitra.
Petro juga mengkritik operasi militer pemerintahan Trump di Amerika Latin, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang dia sebut sebagai tindakan “tanpa dasar hukum yang jelas”.
Sikap Petro ini didukung oleh pernyataan resmi pemerintah Kolombia. Kementerian Luar Negeri Kolombia menyebut ancaman Trump sebagai “campur tangan yang tidak bisa diterima” dan meminta AS menghormati kedaulatan negaranya.
Sebelumnya, pasukan AS telah menyerang fasilitas sipil dan militer di Venezuela dan beberapa negara bagian, lalu menyatakan status darurat nasional.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi serangan “skala besar” ini, dan bahwa Maduro beserta istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar negeri. Mereka sekarang berada di pusat penahanan di New York.
Serangan ini terjadi setelah berbulan-bulan tekanan AS kepada Maduro yang dituduh terlibat perdagangan narkoba. Pemimpin Venezuela itu menyangkal tuduhan dan menyatakan siap untuk berdialog.