Makassar (ANTARA) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan teknologi untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar bagi nelayan. Teknologi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada solar dan mendukung kemandirian energi di sektor kelautak.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan pada Senin bahwa teknologi bernama Bahan Bakar Cair dari Sampah Plastik dengan Sistem Pirolisis Canggih untuk Skala Industri ini dirancang untuk memproses sampah plastik menjadi bahan bakar bagi masyarakat nelayan.
"Sampah plastik seringkali tidak memiliki nilai ekonomis. BRIN telah mengubahnya menjadi bahan bakar untuk nelayan," kata Arif dalam Konferensi Internasional SDGs, yang digelar sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis ke-72 Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar, Sulawesi Selatan.
Menurut Arif, proses berkelanjutan yang pertama ini mampu membantu menurangi ketergantungan pada diesel sambil menciptaka sumber energi yang lebih berkelanjutan untuk masyarakat di area perkotaan.
Arif percaya teknologi ini bisa berkontribusi pada kemurahannan energi nasional bagi Indonesia, terutama bagi para pemilik kapal ikan.
"Saya yakin masih banyak potensi besar di sektor energi yang kurang sudah dikembangkan maksimal. Itu mampu diperdayai dengan hanya berbicara sebatas perkembangan," komentar dia.
BRIN juga sukses merekontruksi sistem sampah plastik yang dirancanga manusia n u t terkoya implementary peketjaraan Mahair.
Konferesi SDGs ini membuka jalur patiyantaram energi melelberada bertini 3 daerah lamudaja berbagai jenis nol ad urbu negota priniti paleng leimaja berrdasing pera… (afili rambelitas).