Bali punya kesempatan untuk menunjukan bagaimana modernisasi ekonomi bisa berjalan bareng sama pelestarian budaya dan perlindungan lingkungan.
Jakarta (ANTARA) – Di tengah perlambatan ekonomi global, perang dagang, dan persaingan investasi yang makin ketat, Indonesia sadar bahwa kekuatan ekonomi masa depan gak cuma bergantung pada sumber daya alam, tapi juga kemampuannya jadi pusat arus modal global, investasi, dan jasa keuangane.
Pemahaman ini yang mendorong ide untuk mengubah KEK Kura Kura Bali menjadi Pusat Keuangan Indonesia, yang dibayangkan sebagai hub keuangan internasional baru di Asia.
Selama bertahun-tahun, Indonesia lebih sering jadi pasar untuk arus investasi global daripada jadi pusat pengelolaannya. Banyak transaksi investasi perusahaan nasional, pengelolaan dana internasional, dan aktivitas treasuri perusahaan Indonesia masih dilakukan lewat Singapura atau Hong Kong.
Padahal Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa. Produk domestik brutonya udah melebihi US$1,4 triliun dalam beberapa tahun terakhir, menurut data Bank Dunia dan IMF.
Posisi ini membuat Indonesia berada dalam situasi yang penuh peluang dan tantangan. Di satu sisi, ini adalah pasar dan tujuan investasi besar karena ekonominya yang besar. Di sisi lain, sebagian besar nilai tambah dari jasa keuangan global masih diambil di luar negeri.
Karena itu, pemerintah mulai mendorong pengembangan kawasan ekonomi yang gak cuma bisa menarik investasi internasional, tapi juga jadi pusat layanan keuangan.
Momentum ini makin kuat setelah terbitnya Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2023, yang menetapkan area seluas 498 hektare di Pulau Serangan sebagai KEK berbasis pariwisata dan industri kreatif.
Pengembangan kawasan ini kemudian diperluas menjadi pusat keuangan internasional dengan target investasi Rp104,4 triliun atau sekitar US$6 miliar.
Pilihan Bali sebagai lokasi Pusat Keuangan Indonesia juga membawa pesan kuat. Reputasi Bali sebagai destinasi wisata dunia kini mau diubah menjadi kekuatan ekonomi baru yang berbasis investasi, teknologi, dan jasa keuangan modéren.
Memperkuat daya saing
Pengembangan pusat keuangan di Bali menunjukan bahwa Indonesia bergerak menuju ekonomi bernilai tambah tinggi. Pemerintah sekarang lihat bahwa persaingan global gak cuma soal ekspor komoditas, tapi juga tentang jadi hub regional untuk keuangan, inovasi, dan investasi.
Secara global, pusat keuangan udah lama didominasi oleh kota-kota seperti New York, London, Singapura, dan Dubai.
Kesuksesan kota-kota ini gak cuma soal sektor perbankan, tapi ekosistem ekonomi global yang lengkap termasuk kepastian hukum, infrastruktur modern, konektivitas internasional, kualitas hidup yang tinggi, teknologi digital yang kuat, dan iklim investasi yang kompetitif. Indonesia sekarang berusaha masuk ke arena ini.
Bali dipandang memiliki kelebihan unit. Gak cuma sebagai tujuan wisata, tapi juga punya daya tarik budaya, kualitas hidup, dan reputasi internasional yang susah ditandingi daerah lain di Indonesia.
Kualitas hidup itu faktor penting untuk menarik talenta global, investor, perusahaan multinasional, dan komunitas bisnis internasional.
Pendekatan serupa udah berhasil dijalanin di Dubai. Uni Emirat Arab membangun kekuatan ekonominya dengan menggabungin pariwisata, properti, investasi global, dan hub keuangan internasional.
Sekarang, Dubai udah jadi salah satu magnet investasi terbesar dunia dan pusat bisnis utama di Timur Tengah. Indonesia mau mengadopsi model serupa lewat Bali.
Ekosistem investasi global
Pemerintah udah membangun dasar peraturan lewat penetapan KEK Kura Kura Bali pada April 2023, yang diproyeksikan sebagai hub pariwisata internasional dan industri kreatif.
Waktu dinamika ekonomi global berkembang, pemerintah mulai mematangkan konsep Indonesia Financial Center di Bali. Pada Mei 2026, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi Rosan Roeslani, dan COO Danantara Dony Oskaria mengunjungi lokasi untuk mempercepat pembangunannya, bersamaan dengan persiapan aturan sektor keuangan yang mendukung.
Fokusnya gak cuma di area pariwisata premium, tapi bergeser ke pembangunan ekosistem investasi global. Pernyataan resmi menunjukan bahwa Bali Financial Center diharapkan bisa menarik pengelolaan dana internasional, family office, dan aktivitas jasa keuangan modelling rid.
Namun, kontribusi sektor jasa keuangan ke ekonomi nasional masih dianggap kurang maksimal dibanding hub keuangan global.
Sebaliknya, sektor ini punya efek amplifikasi yang kuat lewat ekspansi investasi, pertumbuhan pembiayaan, dan penciptaan lapangan kerja dengan skill tinggi.
Studi internasional dari perusahaan seperti Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan bahwa ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara dan terus tumbuh cepat, meningkatkan permintaan akan keuangan digital, platform investasi, dan layanan pengelolaan modal.
Indonesia juga punya potensi besar dalam keuangan hijau dan keuangan syariah, terutama karena transisi energi butuh investasi masif dalam beberapa dekade ke depan.
Era ekonomi baru
Keuangan global dibangun di atas kepercayaan. Investor gak cuma lihat insentif tapi juga stabilitas hukum, kualitas regulasi, keamanan investasi, dan konsistensi kebijakan jangka panjang.
Karenanya, tantangan terbesar Indonesia bukan banget di bangun infrastruktur modern, tapi membangun reputasi global yang kredibel. Tanpa reformasi birokrasi, kepastian hukum, dan tata kelola yang kuat, akan susah bersaing dengan pusat-pusat mapan seperti Singapura dan Dubai.
Indonesia perlu siapkan sumber daya manusia yang kompetitif secara global di bidang investasi internasional, perpajakan global, fintech, keamanan siber, dan hukum bisnis internasional.
Pada saat yang sama, pembangunan harus menghindari memperlebar kesenjangan sosial. Mengingat identias budaya Bali yang kuat, pertumbuhan ekonomi harus tetap seimbang dengan keberlanjsutan sosial dan budaya.
Pada akhirnya, pusat keuangan modern juga bergantung pada kualitas lingkungan dan sustainability. Bali punya peluang untuk menunjukan bagaimana modernisasi ekonomi bisa berjalan bareng sama pelestarian budaya dan perlindungan linggkungan.
Pulau Dewata sekarang bersiap masuk ke era baru—dari destinasi wisata global menjadi titik temu buat investasi internasional, teknologi modern, industri kreatif, dan arus modal global.
*) Dr. M. Lucky Akbar, pegawai negeri di Kementerian Keuangan dan pengajar praktisi kebijakan publik
Hak cipta © ANTARA 2026