Jakarta (ANTARA) – Seorang anggota DPR senior mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan penyesuaian harga bahan bakar, karena lonjakan minyak global mengancam anggaran negara. Ia juga meminta agar ada langkah-langkah pengamanan untuk melindungi konsumen.
Wakil Ketua Komisi VII DPR Lamhot Sinaga menyatakan dalam keterangannya di hari Sabtu bahwa harga minyak dunia telah naik hingga sekitar AS$140 per barel. Angka ini hampir dua kali lipat dari asumsi harga minyak mentah yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Oleh karena itu, meskipun keputusan pemerintah untuk menunda kenaikan harga bisa dimengerti, pemerintah harus tetap fleksibel dalam merespon gejolak eksternal.
"Ini bukan situasi normal; diperlukan respons yang cepat dan terukur," kata Sinaga. Ia menambahkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar AS$1 bisa menambah tekanan fiskal hingga Rp6 triliun.
Ia mengaitkan lonjakan harga ini sebagian dengan kekhawatiran keamanan yang memengaruhi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur transit penting global, di tengah perang AS dan Israel dengan Iran.
Melihat risiko ini, Sinaga menyebutkan bahwa penyesuaian harga BBM adalah opsi yang realistis untuk meringankan tekanan pada anggaran.
Dia memperingatkan bahwa kegagalan bertindak dapat memperlebar beban fiskal seiring terus naiknya biaya subsidi dan kompensasi.
Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan seruan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk kebijakan yang responsif guna mengatasi gejolak pasar global.
Namun, Sinaga menekankan bahwa setiap penyesuaian harga harus disertai langkah mitigasi untuk melindungi masyarakat dari kenaikan biaya hidup.
"Penyesuaian harus berjalan beriringan dengan pengamanan untuk memastikan kelompok rentan terlindungi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa DPR tetap berkomitmen untuk mengawasi kebijakan yang menyeimbangkan keberlanjutan fiskal dengan perlindungan sosial.
Sinaga juga menyerukan koordinasi yang lebih kuat antar pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan energi yang mencerminkan perkembangan global.
Dia menekankan pentingnya menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.
Pemerintah, kata dia, harus mempertimbangkan ketahanan fiskal dengan dampak sosial dalam memutuskan langkah berikutnya.
Indonesia sejauh ini tetap mempertahankan harga BBM domestik yang stabil meski ada gejolak global, tetapi tekanan yang semakin besar dapat menguji sikap itu.
Berita terkait: Indonesia won’t raise subsidized fuel prices despite global oil surge
Berita terkait: Russia open to oil sales to Pertamina amid Strait of Hormuz tensions
Penerjemah: Devi Nindy, Tegar Nurfitra
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026