Ringkasan Berita:
Kejagung resmi menahan Ketua Yayasan IFSR, Glory Harimas Sihombing, sebagai tersangka keenam. Dia terbukti jual beli izin dapur SPPG dan setor uang haram ke mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana.
BGN juga coret 39.352 siswa mampu dari 76 sekolah di Pulau Jawa yang diangap bisa penuhi kebutuhan gizi sendiri.
Dana hasil pemangkasan jatah makan gratis itu bakal dialihkan sepenuhnya untuk intervensi wilayah 3T, ibu hamil, menyusui, dan balita.
**WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA** – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) sekarang lagi ada di persimpangan jalan yang penuh dilema.
Di satu sisi, program nasional ini harus tersendat-sendat gara-gara skandal korupsi yang makin melebar ke dalam.
Di sisi lain, negara dipaksa buat refocusing anggaran besar-besaran demi menyortir lagi siapa yang benar-benar berhak dapat makanan gratis ini.
**Tersangka Keenam Jatuh: Kedok Jual Beli Dapur “Maut” Program MBG**
Kejaksaan Agung (Kejagung) lagi-lagi tetepin tersangka baru di kasus ini. Tim penyidik Jampidsus resmi jadikan Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review, Glory Harimas Sihombing (GHS), sebagai tersangka keenam di pusaran korupsi tata kelola MBG periode 2025-2026. Glory langsung dijeblosin ke Rutan Salemba cabang Kejagung setelah terbukti main-main sama mantan Kepala BGN yang udah ditahan, Dadan Hindayana.
“Yayasan-yayasan itu tidak memenuhi syarat untuk jadi mitra SPBG, tapi tetap ditunjuk dengan cara atur verifikasi di portal mitra BGN,” ujar Direktur penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, Kamis (18/6/2026).
Modus Glory cukup licik dan melawan hukum. Setelah disuruh Dadan cari mitra, dia malah komersialisasi alias jual izin dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG). Uang pelicin dalam rupiah dan valas dari para mitra itu disetor tunai langsung ke kantong Dadan Hindayana. Kini Glory dijerat pasel berlapis UU Tipikor dan KUHP.
**39 Ribu Siswa Dicoret demi Selamatkan Anak-Anak Wilayah 3T**
Di tengah badai korupsi yang narik elite mantan pejabat—termasuk eks Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya—Badan Gizi Nasional coba berbenah dari sisi efisiensi anggaran.