Selasa, 20 Januari 2026 – 00:32 WIB
Jakarta, VIVA – Pengakuan Aurelie Moeremans tentang pengalaman child grooming yang ia tulis dalam buku memoar berjudul Broken Strings masih jadi bahan pembicaraan. Keberanian aktris itu membuka luka lama tak hanya menyentuh publik, tapi juga menarik perhatian ahli psikologi yang melihat kasus ini dari sisi ilmiah dan emosional.
Baca Juga :
Ini Kata Psikolog Soal Pengakuan Aurelie Moeremans Terkait Child Grooming
Salah satu yang angkat bicara adalah psikolog Joice Manurung. Dalam acara tv yang dipandu Irfan Hakim, Joice memberi penjelasan mendalam tentang kondisi psikologis Aurelie dan dinamika emosi yang sering terjadi pada korban child grooming. Menurut dia, pengalaman hidup berat sejak muda bisa membentuk ketahanan mental seseorang. Scroll ke bawah untuk baca artikel lengkapnya.
Baca Juga :
Aurelie Moeremans Minta Netizen Berhenti Hujat Sosok di Buku Broken Strings
“Satu sisi yang saya lihat dari Aurelie, beliau punya daya tahan emosi yang relatif kuat ya. Jadi mungkin bentukan pengalaman hidupnya cukup bergejolak dan tangguh sehingga dia terbiasa dengan tekanan, terbiasa dengan situasi yang membuat dia tidak nyaman, kemungkinan seperti itu,” jelas Joice Manurung yang dikutip dari tayangan YouTube pada Selasa, 20 Januari 2026.
Namun, ketenangan Aurelie saat ceritakan kisah pahit itu juga dinilai sebagai bentuk mekanisme bertahan. Joice menyebut, banyak korban trauma yang terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya menyimpan tekanan emosional untuk jangka panjang.
Baca Juga :
Ragukan Cerita Broken Strings, Tengku Zanzabella Soroti Pola Asuh Orang Tua Aurelie Moeremans
“Namun, sisi lain saya pikir ini upaya dia juga untuk menenangkan dirinya. Jadi banyak orang milih cara merasionalisasi dan menunjukkan sesuatu yang sifatnya ‘ah gapapa, saya bisa lalui’. Satu sisi itu baik karena membantu dia melewati tekanan. Namun, satu sisi itu sebenarnya numpuk,” lanjutnya.
Lebih jauh, Joice menekankan bahwa hubungan dalam kasus child grooming sering disalahartikan sebagai cinta. Padahal, yang terjadi adalah ketergantungan emosi yang terbentuk karena kebutuhan kasih sayang yang tidak terpenuhi sejak awal.
“Sebenarnya ini bukan bentuk cinta dalam arti sebenarnya, tapi bentuk ketergantungan emosi. Kalau biasanya child grooming dialami oleh anak-anak yang secara afeksi kurang perhatian atau bentuk attachment dengan figur terdekat seperti ayah-ibu itu kurang,” tuturnya.
Halaman Selanjutnya
Pelaku, menurut Joice, biasanya sangat jeli membaca kekosongan emosional korban. Mereka lalu hadir sebagai sosok yang memberi perhatian, perlindungan, dan rasa aman yang semu.